Jumat, 19 Desember 2014

Beradab Dalam Bertanya.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Ikhwan fillah rahimakumullah, Sebagaimana kita ketahui bahwa Majelis Ilmu adalah suatu majelis yg paling utama, paling besar dan paling mulia, diantara majelis yg dilakukan oleh manusia.
Karena di dalam majelis tersebut dibahas perkara yang sangat utama dan penting bagi kehidupan umat manusia baik didunia dan akherat disamping dibicarakanya tentang kebesaran Allah subhana wata'ala.
Oleh karenanya untuk menjunjung tinggi majelis tetsebut harus kita ikuti adab adabnya.
Maka salah satu adab yg wajib kita ketahui dsn laksanakan dalam majelis ilmu adalah Beradab Dalam Bertanya.

Bertanya adalah kunci ilmu. Juga diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firmanNya,

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. [An Nahl : 43].

Demikian pula Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan, bahwa obat kebodohan yaitu dengan bertanya, sebagaimana sabdanya,

أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ 

Seandainya mereka bertanya! Sesungguhnya obatnya kebodohan adalah bertanya. [Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi dan dishahihkan Syeikh Salim Al Hilali dalam Tanqihul Ifadah Al Muntaqa Min Miftah Daris Sa'adah, hal. 174].

Imam Ibnul Qayim berkata,"Ilmu memiliki enam martabat. Yang pertama, baik dalam bertanya …… Ada di antara manusia yang tidak mendapatkan ilmu, karena tidak baik dalam bertanya. Adakalanya, karena tidak bertanya langsung. Atau bertanya tentang sesuatu, padahal ada yang lebih penting. Seperti bertanya sesuatu yang tidak merugi jika tidak tahu dan meninggalkan sesuatu yang mesti dia ketahui."

Demikian juga Al Khathib Al Baghdadi memberikan pernyataan,"Sepatutnyalah rasa malu tidak menghalangi seseorang dari bertanya tentang kejadian yang dialaminya."

Oleh karena itu perlu dijelaskan beberapa adab yang harus diperhatikan dalam bertanya, diantaranya:

1. Bertanya perkara yang tidak diketahuinya dengan tidak bermaksud menguji.
Hal ini dijadikan syarat pertanyaan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firmanNya.

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. [An Nahl : 43].

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan syarat pertanyaan adalah tidak tahu. Sehingga seseorang yang tidak tahu bertanya sampai diberi tahu. Tetapi seseorang yang telah mengetahui suatu perkara diperbolehkan bertanya tentang perkara tersebut, untuk memberikan pengajaran kepada orang yang ada di majelis tersebut. Sebagaimana yang dilakukan Jibril kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Jibril yang mashur.

2. Tidak boleh menanyakan sesuatu yang tidak dibutuhkan, yang jawabannya dapat menyusahkan penanya atau menyebabkan kesulitan bagi kaum muslimin.
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang dalam firmanNya,


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَسْئَلُوا عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِن تَسْئَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْءَانُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللهُ عَنْهَا وَاللهُ غَفُورٌ حَلِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur'an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah mema'afkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. [Al Maidah : 101].

Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

Seorang Muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya sesuatu yang tidak diharamkan, lalu diharamkan karena pertanyaannya. [Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad].

Oleh karena itulah para sahabat dan tabi'in tidak suka bertanya tentang sesuatu kejadian sebelum terjadi. Rabi' bin Khaitsam berkata,"Wahai Abdullah, apa yang Allah berikan kepadamu dalam kitabnya dari ilmu maka syukurilah, dan yang Allah tidak berikan kepadmu, maka serahkanlah kepada orang 'alim dan jangan mengada-ada. Karena Allah l berfirman kepada NabiNya,

قُلْ مَآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ 

Katakanlah (hai Muhammad),"Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. Al Qur'an ini, tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Qur'an setelah beberapa waktu lagi. [Shad : 86-88].[8] 

3. Diperbolehkan bertanya kepada seorang 'alim tentang dalil dan alasan pendapatnya.
Hal ini disampaikan Al Khathib Al Baghdadi dalam Al Faqih Wal Mutafaqih 2/148 ,"Jika seorang 'alim menjawab satu permasalahan, maka boleh ditanya apakah jawabannya berdasarkan dalil ataukah pendapatnya semata".

4. Diperbolehkan bertanya tentang ucapan seorang 'alim yang belum jelas. Berdasarkan dalil hadits Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu, beliau berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ قُلْنَا وَمَا هَمَمْتَ قَالَ هَمَمْتُ أَنْ أَقْعُدَ وَأَدَعَهُ

Saya shalat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau memanjangkan shalatnya sampai saya berniat satu kejelekan? Kami bertanya kepada Ibnu Mas'ud,"Apa yang engkau niatkan?" Beliau menjawab, "Saya ingin duduk dan meninggalkannya". [Riwayat Bukhari dan Muslim].

5. Jangan bertanya tentang sesuatu yang telah engkau ketahui jawabannnya, untuk menunjukkan kehebatanmu dan melecehkan orang lain.

• Mengambil Akhlak Dan Budi Pekerti Gurunya.
Tujuan hadir di majelis ilmu, bukan hanya terbatas pada faidah keilmuan semata. Ada hal lain yang juga harus mendapat perhatian serius. Yaitu melihat dan mencontoh akhlak guru. Demikianlah para ulama terdahulu. Mereka menghadiri majelis ilmu, juga untuk mendapatkan akhlak dan budi pekerti seorang 'alim. Untuk dapat mendorong mereka berbuat baik dan berakhlak mulia. 

Diceritakan oleh sebagian ulama, bahwa majelis Imam Ahmad dihadiri lima ribu orang. Dikatakan hanya lima ratus orang yang menulis, dan sisanya mengambil faidah dari tingkah laku, budi pekerti dan adab beliau.

Abu Bakar Al Muthaawi'i berkata,"Saya menghadiri majelis Abu Abdillah – beliau sedang mengimla' musnad kepada anak-anaknya- duabelas tahun. Dan saya tidak menulis, akan tetapi saya hanya melihat kepada adab dan akhlaknya".

Demikianlah perihal kehadiran kita dalam majelis ilmu. Hendaklah bukan semata-mata mengambil faidah ilmu saja, akan tetapi juga menghindari perkara perkara yg bisa nengurangi keutamaannya dan yang paling utama lagi adalah menghindari perdebatan dalam majelis ilmu.

Mendengar secara seksama sehingga kita tahu apa yg menjadi kesimpulan dari apa yg disampaikan adalah lebih utama dari pada banyak bertanya dan berdebat dalam pembahasan.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat.

Wallahu'alam bi showab.

Sabtu, 6 Shafar 1436H
Abu Afifah

Reff:majalah As-Sunnah)

Menilik Kerancuan Ritual Natal Dari Surat Maryam

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, washalatu wassalam 'ala Rasulillah wa 'alihi wa sohbihi. Amma ba'd

Surat Maryam merupakan surat ke 19 dari 114 surat di dalamKalamullah atau al-Quran. Sebagian besar isi dari surat Maryam berkisar tentang kisah Nabi Isa dan Ibunya, Maryam, dari masa Maryam mengandung Nabi Isa sampai kisah melencengnya kaum Nasrani dari Agama yang dibawa Nabi Isa. Berangkat dari hal ini, maka sudah barang tentu keabsahan Natal -yang inti acaranya adalah perayaan lahirnya Nabi Isa atau "anak Tuhan" dalam prespektif Nasrani- bisa ditilik dari surat Maryam. Setidaknya ada dua kerancuan acara Natal yang bisa disimpulkan dari firman Allah di surat Maryam, yaitu kerancuan dalam waktu dan esensi acara.

Pertama Kerancuan Waktu

Perayaan natal dilaksanakan tepat di tanggal yang diklaim sebagai tanggal kelahiran Nabi Isa. Berkenaan dengan hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan Nasrani kapan Nabi Isa dilahirkan. Pendapat yang terkenal dan diamini mayoritas pemeluk agama ini adalah 25 desember. Sebagaimana yang sudah lumrah 25 desember bertepatan dengan musim dingin di berbagai belahan dunia, layaknya Amerika bahkan di negara-negara Arab.

Menyoal kapan nabi Isa lahir, di dalam surat maryam Allah menjelaskan,

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25)

"Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (maryam) berkata, 'wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.' Maka dia (jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, 'janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) ini akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu" (Qs: Maryam 23-24).

Di dalam ayat tersebut Maryam diperintahkan untuk menggoyang pohon kurma agar buahnya gugur  dan bisa dinikmati Maryam. Lantas apa hubungan kurma dengan kelahiran nabi Isa? Bagi yang pernah tinggal di tanah Arab tentu sangat hafal betul kapan kurma ini muncul dari pohon kurma, yaitu ketika musim panas. Maka dengan ini jelas bahwa 25 Desember yang bertepatan dengan musim dingin yang diklaim sebagai kelahiran Nabi Isa merupakan sebuah kerancuan karena Nabi Isa lahir ketika musim kurma, yaitu di musim panas.

Kerancuan Kedua Esensi Perayaan Natal

Inti dari perayaan Natal adalah perayaan akan lahirnya Nabi Isa yang diyakini sebagai Anak Allah oleh kaum nasrani. Keyakinan nabi Isa sebagai anak Allah ini dicap sesat dan kufur di berbagai tempat di dalam al-Quran tak terkecuali di surat Maryam. Di dalamnya digambarkan betapa buruknya dan besarnya nilai kemungkaran keyakinan tersebut. Allah berkata di dalam surat Maryam,

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91)

"Hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu), Karena mereka menganggap Allah yang maha pengasih mempunyai anak"(Qs: Maryam, 90-91).

Ayat ini menegaskan kepada kita betapa ucapan dan keyakinan bahwasanya Isa adalah anak Allah dapat membuat bumi luluh lantah layaknya hari kiamat. Hal ini -sebagaimana yang diutarakan oleh Ibnu Katsir (ulama tafsir abad kedelapan hijriah), "dikarenakan gunung-gunung, langit, dan bumi merupakan makhluk yang mengesakan Allah azza wa jalla, maka ketika mendengar perkataan yang bermuatan syirik dari manusia mereka hampir saja hancur sebagai bentuk pengagungan mereka terhadap Allah ta'ala" (tafsir surat maryam ayat 88-95).

Alhasil, melihat kerancuan-kerancuan di atas maka sudah barang tentu keyakinan kaum Nasrani ini tidak dapat diterima di dalam agama Islam. Maka segala hal yang mengarah kepada dukungan ataupun apresiasi yang di praktikan dengan ucapan selamat, memakai atribut natal, dan sebagainya tidak dapat dibenarkan.

Selain itu, ayat-ayat di atas juga memberi kita pelajaran akan pentingnya membaca dan mendalami makna al-Quran agar kita terhindar dari berbagai penyimpangan sebagaimana yang kita dambakan dan kita pinta selalu ketika shalat "Ihdinassiratal Mustaqim" tunjukilah kami jalan yang lurus.
_____
Penulis: Rizqo Kamil Ibrahim
Dari Artikel Muslim.Or.Id
Posting ulang Oleh Almanzilatul.khairiyah

Rabu, 17 Desember 2014

Bertamu untuk Mengucapkan Selamat Natal..

Bolehkah bertamu pada non muslim untuk mengucapkan selamat natal? Kebiasaan seperti ini masih dilakukan di sebagian tempat apalagi yang berada di tempat yang mayoritas tetangganya adalah Nashrani. Hal ini pun kita temukan pada sebagian pegawai ketika mengucapkan selamat natal pada atasannya yang non muslim.
Bertamu dan Bertandang
Bertamu dan bertandang adalah suatu hal yang baik. Yang kita kunjungi tentu saja orang-orang yang baik. Dalam sebuah ayat dalam Al Quran disebutkan,
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya" (QS. Al Kahfi: 28). Ayat ini dibawakan oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab yang beliau susun, yaitu kitabRiyadhus Sholihin. Beliau membawakan ayat ini pada bab mengenai perintah berkunjung pada orang-orang yang baik.
Tentang ayat di atas, Syaikh As Sa'di rahimahullah berkata, "Ayat tersebut berisi perintah untuk bersahabat dengan orang-orang yang baik, bersungguh-sungguh mencari teman-teman yang baik. Hendaklah banyak bergaul dengan orang yang baik walau mereka miskin karena banyak faedah yang tak terhitung kala berinteraksi dengan mereka." (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 475).
Dalam hadits, kita juga diperintahkan untuk mencari teman-teman yang baik. Dari Abu Sa'id, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِىٌّ
"Janganlah bersahabat kecuali dengan orang beriman. Janganlah yang memakan makananmu melainkan orang bertakwa." (HR. Abu Daud no. 4832 dan Tirmidzi no. 2395. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Al 'Azhim Abadi menyatakan hadits yang dimaksud adalah dilarang bersahabat dengan orang kafir dan munafik karena berteman dengan mereka hanyalah

Jumat, 12 Desember 2014

Tujuh Kiat Menggapai Usnul Khotimah

Tujuh Kiat Menggapai Usnul Khotimah
Oleh : Ust. Drs Ali Budiman

Menggapai kematian yang indah (Khusnul Khotimah)  merupakan harapan semua umat manusia di dunia. Namun, realitanya tak semua manusia mampu menggapai kematian dengan indah. Hal ini dikarenakan amalnya yang berbeda _beda antara satu sama lainnya sewaktu 
hidup di dunia. Orang yang saleh yang selalu beramal baik dan takwa kepada Allah secara kontinu (istiqomah) hingga akhir hayatnya, niscaya akan memperoleh Khusnul Khotimah. Sebaliknya, jika manusia sering durhaka kepada Nya dan "memperkaya diri "dengan maksiat hingga akhir hidup nya, maka sudah bisa dipastikan ia termasuk kategori mati yang menyengsarakan. (su'ul Khotimah). Lantas, bagaimanakah sebenarnya Kiat Menggapai kematian yang indah ;
1. Kontinu melakukan ketaatan dan bertakwa kepada Allah. Intinya ialah merealisasikan tauhid, menjauhi hal _hal yang diharamkan, dan segera bertaubat dari perbuatan haram yang melumurinya. Tindakan yang paling diharamkan adalah syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil Firman Allah :
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik,dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar " (Q.S.An Nisaa':48).
2. Hendaknya berdoa kepada Allah dengan sungguh -sungguh agar diwafatkan dalam keadaan beriman dan bertakwa.,yaitu menjalankan seluruh aturan Allah swt, dan Rasul nya sesuai dengan kemampuannya masing -masing. Firman Allah :
    "Hai orang -orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, kami akan memberimu furqaan,dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan -kesalahanmu, dan mengampuni (dosa -dosa) mu.Dan Allah mempunyai karunia yang besar ".(Q.S.Al Anfal: 29).
3. Hendaknya mengerahkan segala kemampuan dalam memperbaiki diri, secara lahir dan batin nya, niat dan maksudnya diarahkan untuk memperbaiki diri, secara lahir dan batin, niat dan maksudnya diarahkan untuk memperbaiki diri. Ketentuan Allah dialam ini telah berlaku. Allah memberikan taufik kepada orang yang mencari kebenaran. Allah akan mengokohkan nya di atas al haq serta menutup amalnya dengan al haq itu "Jauhkanlah dirimu Dari prasangka buruk sebab prasangka buruk adalah ucapan yang paling bohong "(hadist muttafaq alaihi).
4. Jujur dalam segala aktivitas kehidupan. Hendaknya kita selalu benar (jujur). Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama orang benar dan selalu memilih kebenaran, dia tercatat di sisi Allah sebagai orang yang benar (jujur). "Hati -hatilah terhadap dusta, sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seseorang dusta dan selalu memilih dusta, dia tercatat disisi Allah sebagai seorang penduso(pembohong). "(HR.Bukhori).
5.  Taubat,bersegeralah pada ampunan Allah sebelum nyawa sampai di kerongkongan, tentunya taubat harus di iringi dengan kebaikan (amal saleh)  siapa lagi yang dapat mengampuni dosa -dosa manusia selain Allah. Orang -orang yang mengerjakan kejahatan kemudian bertaubat sesudah itu beriman, sesungguhnya Tuhan kita sesudah taubat diikuti dengan Iman itu Tuhan maha Pengampun lagi maha penyayang. Rasulullah saja setiap hari meminta ampun (istigfar) minimal 70 kali dalam sehari padahal beliau sudah ma'sum (dilindungi dari dosa)  dari ukuran ini tentunya kita sudah selayaknya minta ampun lebih dari Rasulullah kerjakan "Sesungguhnya Allah swt membentang kan tangan. Nya di waktu siang untuk menerima taubat orang yang bersalah di waktu malam hingga terbit matahari dari sebelah barat " (HR.Imam Muslim).
6.Melayat ke rumah duka sering -seringlah mengikuti prosesi kematian seseorang  dari sejak memandikan, mengafankan, menshalatkan, menguburkan, dan mendoakan, mudah -mudahan ini menjadi nasihat. Fenomena yang terjadi di masyarakat sering terjadi kematian yang dibahas adalah bagaimana terjadinya (sakit, kecelakaan, dan mengapa ia mati, kebaikan dan keburukan selama hidupnya dsb.), padahal tujuan dari kematian buat yang masih hidup adalah nasihat yang sangat berharga agar selalu introspeksi atas kebaikan dan keburukan sehingga terimplementasi dengan persiapan -persiapan yang maksimal untuk menghadapi kematian kelak. Ibnu Umar. Ra mengatakan "Pergunakan masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati "(HR.Bukhori).
7. Berusaha menghindari sebab-sebab kematian yang tidak baik antara lain seperti ;
      _ Banyak melakukan kesyirikan (menjaga akidah),
      _ Menunda -nunda taubat
      _ Panjang angan -angan,
      _Bergelimang maksiat
      _ Berprasangka buruk kepada Allah dalam menerima musibah,
      _ Sangat mencintai keduniaan.
      _ Banyak melakukan aktivitas (fisik, pikiran dan hati) yang tidak berguna.
Itulah tujuh langkah melawan nafsu amarah, guna mencapai kematian yang Khusnul Khotimah jangan ditunda lagi sampai sakit atau bahkan saat sakratul maut menjemput.
Wassalamu'alaikum

Minggu, 07 Desember 2014

6 Keutamaan Tauhidul Asma Wash shifat

Tak kenal maka tak sayang! Tak kenal maka tak cinta!  
Tak mengenal Allah, bagaimana bisa cinta kepada-Nya?
Berkata Ibnul Qayyimrahimahullah,
فكلما كان العلم به أتم كانت محبته أكمل
"Semakin seseorang mengenal Allah ,maka kecintaannya terhadap-Nya semakin sempurna".
Mengenal Allah dengan belajar Tauhidul Asma` wash Shifat
Sebagaimana telah dijelaskan pada tulisan berjudul "Wahai paranormal, apakah Anda telah mengesakan Allah?"  tentang definisi tauhidul asma` wash shifat, maka berikut penjelasan singkat mengenai keutamaantauhidul asma` wash shifat, yaitu:
Sebagai tujuan penciptaan makhluk. Tujuan penciptaan makhluk ada dua, yaitu:Ma'rifatullah, agar kita mengenal siapa Rabb kita melalui nama dan sifat-Nya. Allah ta'alaberfirman :
{اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا}
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu". (QS.Ath-Thalaaq: 12).
'Ibadatullah, agar kita bisa beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar.Allah ta'alaberfirman,
{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku".(QS.Adz-Dzaariyaat : 56).
Rukun Iman yang pertama dan pokok dari seluruh rukun-rukun Iman yang lain. Allah ta'ala berfirman :
{لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ }
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, Kitab-Kitab, dan Nabi-Nabi". (QS.Al-Baqarah : 177).
Paling agung, paling utama, dan paling banyak disebut dalam Al-Qur`an. Buktinya hampir setiap ayat Al-Qur`anditutup dengan penyebutan nama atau sifat Allah.Sebagaimana dinyatakan oleh Penulis Sittu Duror, hal. 34.Sebagai asas perbaikan hati dan badan karena kedudukannya membangun pengetahuan tentang Allah dan tauhid dalam Islam seperti kedudukan memperbaiki hati di dalam jasad dikarenakan ma'rifatullah dan tauhid itu letaknya dalam hati, dan memperbaiki serta menyempurnakan keimanan dalam hati. Allah ta'alaberfirman :
{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ}(24)
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
{تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ}(25)
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS.Ibrahim : 24-25).
Sebagai pokok dari seluruh ilmu yang bermanfaat karena seluruh ilmu itu dasarnya adalah ma'rifatullah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qoyyimrahimahullah.Sebagai penarik dan pengokoh Arkanu'Ibadah Al-Qolbiyyah (rukun-rukun ibadah hati); mahabbah(cinta); khauf (takut); danraja` (harapan).
Semoga Allah memudahkan kita mengenal tentang diri-Nya dan menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya ,sehingga kelak bisa berjumpa dengan-Nya dan melihat wajah-Nya, amin.
[Diolah dari kitab Fiqhul Asma`il Husna, Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq Al-Badr hafidzhahullah dan kitab Sittu Duror, Syaikh Ramadhani hafidzhahullah]
Penulis: Ust. Sa'id Abu 'Ukkasyah
Dari Artikel Muslim.Or.Id
Posting Ulang oleh Al AMnzialatul khairiyah
Posting ulang oleh Abuafifah

Sabtu, 15 November 2014

Cerita Tentang Sebatang Kotek Api..

Nasehat dari ikhwan.
Di Rawalumbu.
Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, tapi satu batang korek api juga dapat membakar jutaan pohon. Jadi, satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif. Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Beda dengan Manusia, kita mempunyai kepala, dan juga otak, jadi kita tidak perlu terbakar amarah hanya karena gesekan kecil. Ketika burung hidup, ia makan lalat, tapi ketika burung mati, lalat makan burung. Waktu terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut. Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita. Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita. Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita, tetapi ketika kita terpuruk orang meninggalkan kita, kecuali Allah dan orang2 yang tidak sombong dan rendah hati tetap menemani kita.
Wass wr wb.

Oleh Drs Marsudi.

Jumat, 14 November 2014

Pentingnya Menuntut Ilmu Agama

PENDAHULUAN
Islam diturunkan sebagai rahmatan lil 'alamin. Untuk itu, maka diutuslah Rasulullah SAW untuk memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT.
Islam mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu, hal ini menunjukkan betapa pentingnya menuntut ilmu. Dengan ilmu, manusia dapat menjadi  hamba Allah yang beriman dan beramal shaleh, dengan ilmu pula manusia mampu mengolah kekayaan alam yang Allah berikan kepadanya. Dengan demikian , manusia juga mampu menjadi hambaNya yang bersyukur, dan hal itu memudahkan menuju surga.
Di sisi lain, manusia yang berilmu memiliki kedudukan yang mulia tidak hanya disisi manusia, tetapi juga disisi Allah. Sebagaimana dijelaskan bahwa dalam firman Allah dalam Q.S. Al-Mujadilah : 11, yang artinya "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". Oleh karena itu, Islam memandang bahwa menuntut ilmu itu sangat penting bagi kehidupan dunia maupun akhirat.
Pada makalah ini dalam pembahasannya akan memaparkan penafsiran-penafsiran tentang hadits-hadits mengenai pentingya menuntut ilmu dalam Islam, diantaranya hadits-hadits tentang hukum menuntut ilmu, hadits tentang anjuran menjaga ilmu, hadits tentang keutamaan menuntut ilmu, dan hadits tentang peran ilmu dalam pendidikan.
HADITS dan TERJEMAH
A.    Hadits tentang hukum menuntut ilmu
وَ قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : طَلَبِ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ وَضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ اَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيْرِ الْجَوْهَرَ وَ للُّؤْلُؤَ وَ الذَّهَبَ. (رواه ابن مجاه)
"dan Rosulullah Saw. Telah bersabda : Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim dan orang yang meletakkan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya (orang yang enggan untuk menerimanya dan orang yang menertawakan ilmu agama) seperti orang yang mengalungi beberapa babi dengan beberapa permata, dan emas. (H.R. Ibnu Majah,Al-Baihaqi,Anas bin Malik dan lain lain serta Al-Mundiri 28/1)
Tafsir mufrodat hadits tentang hukum menuntut ilmu
ووضع العلم       : dan orang yang meletakkan ilmu, maksudnya orang yang menempatkan ilmu
عند غير اهله      : kepada orang yang bukan ahlinya, orang yang bukan faknya
كمقلد الخنازير    : seperti babi yang dikalungi emas( sesuatu yang tidak pantas untuk dilakukan dan akhirnya tidak ada gunanya )
B.     Hadits tentang anjuran menjaga ilmu
حديث عبد الله بن عمر بن العاص رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ص.م. يقول: ان الله و يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس و لكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى اذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلو فأفتو بغير علم فضلو و اضلو (متفق عليه)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash. Katanya : aku pernah mendengar Rosulullah bersabda : Allah tidak mengambil ilmu islam itu dengan cara mencabutnya dari manusia sebaliknya Allah mengambilnya dengan mengambil para ulama sehingga tidak tertinggal walaupun seorang. Manusia melantik orang jahil menjadi pemimpin, menyebabkan apabila mereka ditanya mereka memberi fatwa tanpa berdasarkan kepada ilmu pengetahuan , akhirnya mereka sesat dan menyesatkan orang lain pula (H.R. Bukhori – Muslim )
      Tafsir mufrodat hadits tentang anjuran menjaga ilmu
لا يقبض العلم انتزاعا    : Allah tidak menarik kembali ilmu pengetahuan dengan mencabutnya dengan maksud mencabutnya dari hati sanubari manusia
حتى اذا لم يترك عالما    : sehingga Allah tidak menyisakan orang alim seorangpun, maksudnya orang yang berilmu meninggal dan yang tersisa hanyalah orang-orang bodoh
فافتو بغير علم               : mereka memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan
C.    Hadits tentang keutamaan menuntut ilmu
ومَنْ سَلَكَ طَريقاً يَلتَمِسُ فِيه عِلماً ، سَهَّلَ الله لَهُ بِهِ طَريقاً إلى الجَنَّةِ  .......          
Diriwayatkan dari Abi Hurairah radiallahuanhu, Sesungguhnya Rasullullah SAW  bersabda Barang  siapa menempuh jalannya untuk mencari ilmu, maka Allah mempermudah kepadanya jalan ke surga. (H.R.Muslim)
Tafsir Mufrodat hadits tentang keutamaan menuntut ilmu
Kata  طَريقاً           :diungkapkan dalam bentuk nakirah (indefinit), begitu juga dengan kata ilmu yang berarati mencakup semua jalan atau cara untuk mendapatkan ilmu agama, baik sedikit maupun banyak.
سَهَّلَ الله لَهُ بِهِ طَريقاً   :(Allah memudahkan baginya jalan). Yaitu Allah memudahkan baginya jalan diakherat kelak,  atau memudahkan baginya jalan didunia dengan cara memberi hidayah kepadanya untuk melakukan perbuatan yang baik yang dapat menghantarkan menuju surga. Hal ini mengandung kabar gembira bagi orang yang menuntut ilmu, bahwa Allah memudahkan mereka untuk mencari dan mendapatkannya, karena menuntut ilmu adalah salah satu jalan menuju surga.
D.    Hadits tentang peran ilmu terhadap pendidikan
عن علي كرم الله وجهه .أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : أدبوا أولادكم على ثلاث خصال، حب نبيكم، و حب اّل بيته، وتلاوة القراّن. فإن حملة القراّن في ظل عرش الله يوم لا ظل إلا ظله مع أنبيائه و أصفيائه. ( رواه الطبراني )
 Dari Ali karromallahu wajhah,bahwa sesungguhnya nabi Muhammad SAW berkata : Didiklah anak-anak kalian semua dengan tiga perangai : Cinta Nabi kalian, Cinta keluarga nabi, dan Membaca AlQur'an, maka sesungguhnya orang yang belajar AlQur'an  berada dalam perlindungan Allah, Pada hari yang tiada pertolongan selain pertolongan Allah beserta para nabiNYA dan kekasihNYA. (H.R Ath Thobroni)[1]
Tafsir Mufrodat hadits tentang peran ilmu terhadap pendidikan
الأدب بمعنى التربية الفاضلة والخلق الحميدyaitu Pendidikan yang mulya dan Akhlak yang terpuji
أولادكم                    : jamak dari kata الولدyang berarti anak laki-laki dan perempuan, adapun الابنkhusus laki-laki
خصال                    : jamak dari kata خصلةyang berarti perangai
القراّن حملة              : yang bermakna orang yang menghafal AlQur'an, orang yang mengamalkannya, orang yang mendapatkan petunjuk dari AlQur'an
.اّل بيته                   : bermakna keluarga nabi, ada pendapat yang mengatakan bahwa Ahlul bait mempunyai makna : keluarga nabi dan keturunannya, istri-istri nabi dan putra putrinya, orang-orang mukmin.
أصفيائه                   :jamak dari kata صفي yang berartiالحبيب المقربyaitu kekasih yang dekat atau kekasih tercinta.
ASBABUL WURUD
A.    Sabab wurudz tentang hukum menuntut ilmu
Tidak ada
B.     Sabab wurudz hadits tentang anjuran menjaga ilmu
Tidak ada
C.    Sabab wurudz hadits tentang keutamaan menuntut ilmu
Tidak ada
D.    Sabab wurudz hadits tentang peran ilmu terhadap pendidikan
Tidak ada
PEMBAHASAN
A.    Kandungan Hadits
1.      Hadits tentanghukum menuntut ilmu
Hadits tentang hukum menuntut ilmu merupakan penjelasan tentang hukum mencari ilmu bagi setiap orang Islam laki laki maupun perempuan, yang telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan lain lain. Akan tetapi hadits tersebut diberi tanda lemah oleh imam Syuyuti.[2]
Adapun hukum menuntut ilmu menurut hadits tersebut adalah wajib. Karena melihat betapa pentingnya ilmu dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Manusia tidak akan bisa menjalani kehidupan ini tanpa mempunyai ilmu. Bahkan dalam kitab taklimul muta'allim dijelaskan bahwa yang menjadikan manusia memiliki kelebihan diantara makhluk – makhluk Allah yang lain adalah karena manusia memilki ilmu.[3]
Apabila kita memperhatikan isi Al-Quran dan Al-Hadits, maka terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Menuntut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan menanya, melihat atau mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadits Nabi Muhammad saw.
Dan janganlah memberikan ilmu kepada orang yang enggan menerimanya, karena orang yang  enggan menerima ilmu tidak akan mau untuk mengamalkan ilmu itu bahkan mereka akan menertawakannya.[4]
Dalam hadits lain juga telah disebutkan bahwa :
اطلب العلم من المحد الى اللهد0 (رواه مسلم)
"Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat" (H. R. Muslim)
2.      Hadits tentang anjuran menjaga ilmu
Rosulullahmengucapkan hadits ini pada saat Haji Wada'. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tabrani dari hadits Abu Umamah bahwa pada saat haji Wada' Nabi bersabda : "Pelajarilah ilmu sebelum datang masa punahnya ilmu".
Arabi berkata "Bagaimanakah cara ilmu itu datang dan dimusnahkan? Beliau bersabda : "Punahnya ilmu itu dengan punahnya para ulama ( orang yang menguasai ilmu)"
Hadits ini berisi anjuran menjaga ilmu, peringatan bagi pemimpin yang bodoh, dan peringatan bahwa yang berhak mengeluarkan fatwa adalah pemimpin yang benar – benar mengetahui dan larangan bagi orang-orang yang berani mengeluarkan fatwa tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan. Hadits ini juga dijadikan alasan oleh para ulama bahwa pada zaman sekarang ini tidak ada lagi seorang mujtahid.[5]
Dalam hadits lain juga disebutkan anjuran untuk memelihara ilmu pengetahuan, diantaranya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim:
و كتب عمر بن عبد العزيز الى ابى بكر ابن حزم: انظر ما كان من حديث رسول الله ص.م. فاكتبه فانى خفت دروس العلم و ذهب العلمآء. و لا تقبل الا حديث النبي ص.م. و التفشو العلم. و التجلس حتى يعلم من لا يعلم. فأن العلم لا يهلك حتى يكون سرا. (متفق عليه)
Umar bin Abdul aziz menulis surat kepada Abu bakr bin Hazm" kumpulkan hadits – hadits Nabi yang kau temukan dan tulislah, aku khawatir akan hilangnya ilmu dan perginya para ulama (meninggal)janganlah engkau terima selain hadits Nabi. Pelajarilah ilmu dengan seksama sampai mengetahui sesuatu yang  tidak diketahui,ilmu tidak akan rusak kecuali setelah menjadi rahasia (H.R. Bukhori-Muslim).[6]
3.      Hadits tentang keutamaan menuntut ilmu
Adapun munasabah yang berkaitan tentang keutamaan menuntut ilmu yaitu,
Dari Anas bin Malik Rasulallah SAW bersabda:"barang siapa keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sehingga ia kembali. (HR. Tirmidzi).
Dalam  hadits  yang  kedua  Rasulullah  menegaskan  bahwa  menuntut ilm itu dinilai sebagaai berjuang di jalan Allah, sehingga barang siapa yang mencari ilmu dengan sungguh-sungguh dia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda bahkan bila sesorang meninggal dunia saat mencari ilmu dia akan mendapatkan surganya Allah karena dinilai sama dengan mati syahid.
4.      Hadits tentang peran ilmu terhadap pendidikan
Rosulullah SAW memerintahkan untuk mendidik anak-anaknya dengan tiga perangai :
a.    Cinta terhadap Nabinya, karena cinta terhadap Nabi adalah lebih utama dari pada cinta terhadap kedua orang tuanya bahkan terhadap dirinya sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits :
عن انس بن مالك رضى الله عنه انه قال . قال النبي صلى الله عليه وسلم : لا يؤمن احدكم حتى اكون احب اليه من والده  وولده والناس اجمعين. (رواه البخارى)                                          
Dari Anas r.a. bahwasanya dia berkata, Nabi SAW bersabda," Seseorang  diantara kamu tidak beriman, sehingga aku lebih dicintai daripada orang tua, anak-anak dan manusia seluruhnya." ( H.R. Bukhori )[7]
b.   Cinta kepada keluarga Nabi, karena barang siapa cinta kepada seseorang maka ia akan cinta kepada apa yang dicintai oleh seseorang tersebut dan keturunanya. Sesungguhnya keluarga Nabi adalah lebih berhak mendapatkan cinta, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 33 :
انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت و يطهركم تطهيرا
Sesungguhnya Allah bermaksud  hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. 
c.    Memberikan pengajaran Al-Qur'an terhadap anak, belajar Al-Qur'an dan mengamalkanya adalah yang paling penting dan utama, karena dengan Al-Qur'an manusia menjadi umat yang paling mulya, sebagaimana dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dari sahabat Ustman r.a. Rosulullah SAW bersabda :
عن عثمان بن عفان رضى الله عنه عن النبى صلى الله عليه وسلم قال ان افضلكم من تعلم القراّن و علمه. (رواه البخارى)
 Dari Ustman bin Affan r.a., dari Nabi SAW,beliau bersabda : Sesungguhnya orang termulia diantara kamu adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an. (H.R. Bukhari)
B.     Signfikasi dengan Kehidupan Sekarang
1.      Hadits tentang hukum menuntut ilmu
Hadits ini berisi kesimpulan bahwa:
a.    Menuntut ilmu agama adalah wajib bagi setiap muslim
b.   Jangan memberikan ilmu agama kepada orang yang enggan menerima ilmu.
Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan 'aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.
Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik ; dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang diridhai Allah swt.
Oleh karena itu, ilmu-ilmu seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu bahasa 'arab, ilmu sains seperti perubatan, kejuruteraan, ilmu perundangan dan sebagainya adalah termasuk dalam ilmu yg tidak diwajibkan untuk dituntuti tetapi tidaklah dikatakan tidak perlu kerana ia adalah daripada ilmu fardhu kifayah.
Begitu juga dengan ilmu berkaitan tarekat ia adalah sunat dipelajari tetapi perlu difahami bahawa yg paling aula (utama) ialah mempelajari ilmu fardhu 'ain terlebih dahulu. Tidak mempelajari ilmu fardhu 'ain adalah suatu dosa kerana ia adalah perkara yg wajib bagi kita untuk dilaksanakan dan mempelajari ilmu selainnya tiadalah menjadi dosa jika tidak dituntuti, walau bagaimanapun mempelajarinya amat digalakka Ilmu yang diamalkan sesuai dengan perintah-perintah syara'.
Hukum wajibnya perintah menuntut ilmu itu adakalanya wajib 'ain dan adakalnya wajib kifayah. Sedang ilmu yang wajib kifayah hukum mempelajarinya, ialah ilmu-ilmu yang hanya menjadi pelengkap, misalnya ilmu tafsir, ilmu hadits dan sebagainya. Ilmu yang wajib 'ain dipelajari oleh mukallaf yaitu yang perlu diketahui untuk meluruskan 'aqidah yang wajib dipercayai oleh seluruh muslimin, dan yang perlu di ketahui untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang difardhukan atasnya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji.
2.      Hadits tentang anjuran menjaga ilmu
Hadits ini berisi anjuran menjaga ilmu, peringatan bagi pemimpin yang bodoh, dan peringatan bahwa yang berhak mengeluarkan fatwa adalah pemimpin yang benar-benar mengetahui dan larangan bagi orang yang berani mengeluarkan fatwa tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan.
Menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik ; dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang diridhai Allah swt.
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw menjelaskan bahwa Allah akan memberikan berbagai kemudahan kepada para pencari ilmu, seperti kemudahan bergaul, kemudahan mendapatkan pekerjaan, termasuk kemudahan untuk menuju surga.
Aktivitas pencarian ilmu adalah aktivitas yang sangat mulia, sehingga kepada para pencari ilmu semua makhluk Allah baik yang ada di langit maupun di bumi bahkan ikan-ikan yang ada di dalam air akan memberikan berbagai bantuan, mereka semua ikut mendoakan agar orang yang mencari ilmu selalu mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Para ulama (orang yang berilmu dan selalu menjadi pencari ilmu) adalah pewaris para Nabi, merekalah yang akan meneruskan para nabi dalam menegakan kebenaran dan memerangi kezaliman dengan menyebarkan ilmu yang diterimanya dari nabi kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Semua nabi tidaklah mewariskan harta benda untuk umatnya melainkanmewariskan ilmu untuk kemaslahatan ummatnya. Oleh karena itu siapapun yang berusaha menuntut ilmu dan berhasil menguasainya, maka dia telah berhasil mendapatkan bagian yangsangat besar sebagai modal untuk menghadap Allah swt.
3.      Hadits tentang keutamaan menuntut ilmu
Bahwa dengan ilmu manusia akan mendapatkan kebahagiaan didunia maupun diakherat. Orang yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu sama dengan orang yang sedang menempuh perjalanan menuju surga, Hal ini merupakan kemuliaan yang diberikan Allah kepada orang yang mencari ilmu.[8]
Allah memberikan keuatamaan kepada para pencari ilmu melebihi keutamaan yang diberikan kepada para ahli ibadah, ibarat cahaya bulan purnama yang mampu mengalahkan cahaya seluruh bintang.
Dilihat dari segi ibadat, sungguh menuntut ilmu itu sangat tinggi nilai dan pahalanya, Nabi Muhammad SAW bersabda ; Artinya : "Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Quran), maka pahalanya lebih baik daripada ibadat satu tahun.
Mengapa menuntut ilmu itu sangat tinggi nilainya dilihat dari segi ibadat?. Karena amal ibadat yang tidak dilandasi dengan ilmu yang berhubungan dengan itu, akan sia-sialah amalnya. Syaikh Ibnu Ruslan dalam hal ini menyatakan:
Artinya : "Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadat) tanpa ilmu, maka segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima".
4.      Hadits tentang peran ilmu dalam pendidikan
Ilmu mempunyai peranan sangat penting dalam dunia pendidikan, yang mana pendidikan adalah Universal, ada keseimbangan  antara aspek intelektual dan spiritual, antara sifat jasmani dan rohani. Dengan pendidikan  yang benar dan akhlak yang kuat, maka akan tumbuh generasi penerus bangsa yang beradab dan bermartabat. Karena keberadaan pendidikan menjadi Prasyarat kemajuan sebuah bangsa.
Dalam Islam pendidikan sangatlah penting, terutama pendidikan terhadap anak. Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada seluruh orang tua untuk selalu memperhatikan pendidikan anak dan memberikan pengawasan terhadapnya, dengan cara membiasakan dengan akhlak yang mulia, menanamkan benih-benih keimanan dalam hatinya, mengawasi segala urusannya, karena seoarang anak jika diabaikan maka akan rusak akhlak dan tabi'atnya, dan akan menjadi seorang yang tidak beradab, tidak bermanfaat dalam kehidupannya,bahkan akan menjadi virus bagi masyarakat.[9]
Langkah-langkah dalam mendidik generasi bangsa yang beradab dan bermartabat sesuai Sabda Rosulullah SAW, sebagai berikut :
a.    Membiasakan anak untuk selalu taat kepada perintah Allah.
b.   Menanamkan kecintaan terhadap Rosul lebih utama dari kecintaannya kepada orang tua, bahkan dirinya sendiri.
c.    Menanamkan kecintaan terhadap Ahlul Bait (Keluarga Nabi), dengan kecintaan terhadap Nabi maka akan melahirkan kecintaan terhadap Keluarga Besar Nabi.
d.   Mengajarkan bacaan Al-Qur'an terhadap anak dengan lancar dan fashih sesuai kaedah tajwid.
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari penjelasan hadits – hadits diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Menuntut ilmu agama adalah wajib bagi setiap muslim dan jangan memberikan ilmu agama kepada orang yang enggan menerima ilmu
2. Ilmu akan musnah jika sudah tidak ada lagi para ulama sehingga banyak para pemimpin yang memberi fatwa tanpa menggunakan ilmu pengetahuan, sehingga mereka saling menyesatkan satu sama lain
3. Bahwa dengan ilmu manusia akan mendapatkan kebahagiaan didunia maupun diakherat. Orang yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu sama dengan orang yang sedang menempuh perjalanan menuju surga, Hal ini merupakan kemuliaan yang diberikan Allah kepada orang yang mencari ilmu.
4. Ilmu mempunyai peranan sangat penting dalam dunia pendidikan, yang mana pendidikan adalah Universal, ada keseimbangan  antara aspek intelektual dan spiritual, antara sifat jasmani dan rohani. Dengan pendidikan  yang benar dan akhlak yang kuat, maka akan tumbuh generasi penerus bangsa yang beradab dan bermartabat.
B.     Penutup
Kita sebagai golongan terpelajar jangan hanya menjadikan kitab- kitab hadits sebagai buku hiasan saja atau buku pelengkap referensi, tetapi hendaklah kita baca, maknai, dan ditafsiri dengan baikdan selanjutnya di amalkan dengan segenap kemampuan.
Dan kiranya makalah kami ini sangat jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan demi meningkatkan kesempurnaan makalah yang kami tulis ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Abdillah Muhammad Bin Ismail al-bukhori al-Jufri,Shohih Bikhori.
Abu ar-Rahman Ahmad Bin Syu'aib al-Nisa'i, Sunan al-Nisa'i
Abu Daud Sulaiman Ibn al-Asy'as al-Sjastani al-Azdi,SunanAbu Daud.
Al Qur'an Al Karim
Al-asqolani, Ibnu Hajar. 2002.Fathul Baari Syarah. Jakarta. Pustaka Azzam
Al-Mundiri Hafidz. 2000.Terjemah Attarghib wat tarhib. Surabaya. Al-Hidayah
As Shobuni, Muhammad 'Ali, 1420 H-1999 M, Min Kunuz As Sunnah, Jakarta, Dar Al Kutub Al Islamiyah.
Az-zarnuzi. Ta'limul Muta'allim. Surabaya: Al-Hidayah
Ibn Hajar al-Asqolani,Bulungul Marom.
Ibn Majah, Sunan Ibn Majah.
Jalaludin al-Suyuti, Al-Jam' al-Shghor.
Muhammad Zuhri, 1993.Terjemah Jawahirul Bukhari, Indonesia, Darul Ihya'
Muslim Bin al-Hijaj Abu al-husain al-Qusyairi al-Naisaburi, Shohih Muslim.
[1] as-shobuni,M.Ali.1999.Min Kunuz As sunnah.Jakarta:Dar Al-Kutub Al-Islamiyah hlm.128
[2] Al-Mundiri Hafidz.2000.Terjemah Attarghib wat tarhib.Surabaya.Al-Hidayah.hlm.01
[3] Az-zarnuzi.Ta'limul Muta'allim.Surabaya:Al-Hidayah.hlm.04
[4] Al-Mundiri Hafidz.2000.Terjemah Attarghib wat tarhib.Surabaya:Al-Hidayah.hlm.02
[5] Al-asqolani,Ibnu Hajar.2002.Fathul Baari Syarah.Jakarta.Pustaka Azzam.hlm.375
[6] Ibid hlm.374
[7] Muhammad Zuhri,1993.Terjemah Jawahirul Bukhori.Surabaya: Darul Ihya hlm.34
[8] Ibid hal. 302
[9] as-shobuni,M.Ali.1999.Min Kunuz As sunnah.Jakarta:Dar Al-Kutub Al-Islamiyah hal. 130