Sabtu, 10 Oktober 2015

MISTERI KUNCI SURGA

Ustadz 'Abdullāh Zaen, MA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pada suatu hari Nabi Nūh 'alaihissalām, menjelang wafatnya, beliau menyampaikan sebuah wasiat kepada kedua putranya.

Isi wasiat tersebut kata beliau,

آمُرُكُمَا بِلا إِلٰهَ إِلا اللَّهُ

"Aku wasiatkan kepada engkau berdua wahai putraku agar engkau berdua setia dengan Lā ilāha illallāh."

Kemudian Nabi Nūh 'alaihissalām menjelaskan apa keistimewaan Lā ilāha ilallāh.

Kata beliau:

لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا فِيْهِمَا فِي كِفَّةِ الْمِيزَانِ وَوُضِعَتْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ فِي الْكِفَّةِ الأُخْرَى كَانَتْ أَرْجَحَ

"Seandainya langit beserta bumi dan isi dari keduanya diletakkan di sebuah anak timbangan, kemudian Lā ilāha illallāh diletakkan di anak timbangan yang lainnya, niscaya kalimat Lā ilāha illallāh itu akan lebih berat daripada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi beserta kedua isinya."

(HR Imām Ahmad rahimahullāh dan hadist ini dinilai shahīh oleh Syaikh Al Albāni)

Dalam hadist ini, Nabi Nūh menjelaskan betapa istimewanya kalimat Lā ilāha illallāh.

Karena kalimat tersebut seandainya ditimbang dengan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi beserta penghuni keduanya, tentunya selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla, niscaya kalimat tersebut akan jauh lebih berat daripada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.

Jadi, dalam hadist ini Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan kepada kita betapa berbobotnya kalimat tahlīl.

Yang jadi pertanyaan, kalimat tahlil yang sedemikian istimewanya, mungkinkah kalimat itu adalah merupakan kalimat yang kosong tanpa makna?
Yang hanya dikeluarkan dari lisan saja tanpa mengandung makna yang begitu dalam?

Mungkinkah kalimat tersebut adalah merupakan kalimat yang hanya dijadikan, maaf, oleh sebagian orang "lipstik"?

Dijadikan sebagai penghias bibir belaka?

Oh tentu tidak !

Kalimat tersebut bukanlah kalimat yang hanya sekedar diucapkan di lisan.

Namun kalimat itu adalah kalimat yang mengandung kandungan yang sangat dalam.

Makanya, pernah suatu saat Imām Wahhab Ibnu Munabbih di datangi oleh salah seorang kaum muslimin dan berkata:

أَلَيْسَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: بَلَى وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلاَّ لَهُ أَسْنَانٌ فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ

"Wahai Imam, bukankah Lā ilāha illallāh itulah kuncinya surga?"

⇒ Artinya orang yang sudah mengucapkan Lā ilāha illallāh itu pasti akan masuk surga.

Maka beliau menjawab:

"Betul, Lā ilāha illallāh adalah kunci surga. Tetapi, bukankah setiap kunci pasti memiliki gerigi?"

Jadi kalau kita perhatikan kunci, tidak ada kunci yang tidak ada geriginya (namanya kunci pasti akan memiliki gerigi).

Kata Imam Wahhab Ibnu Munabbih, setiap kunci pasti ada geriginya.

Kalau engkau membawa kunci pakai gerigi lengkap dengan geriginya maka engkau bisa membuka pintu tersebut.

Tapi seandainya kunci yang kamu bawa adalah kunci yang tidak ada geriginya, niscaya engkau tidak akan bisa membuka pintu.

Jadi, di sini Imām Wahhab Ibnu Munabbih menjelaskan kepada kita bahwa kalimat Lā ilāha illallāh adalah sebuah kalimat yang memiliki hak dan kewajiban yang harus kita penuhi, kalimat yang harus kita tunaikan syarat-syaratnya.

Dan tidak usah merasa heran, darimana kok ada syarat-syarat Lā ilāha illallāh.

Kenapa Anda heran?

Bukankah kita senantiasa melakukan shalat lima waktu?

Dan yang namanya shalat tidak akan diterima Allāh Subhānahu wa Ta'āla kalau tidak memenuhi syarat-syaratnya.

Bukankah haji itu juga merupakan ibadah yang tidak akan diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla kalau kita tidak memenuhi syarat-syarat haji?

Misalnya orang berhaji, harus berakal.

Kalau ada orang gila berangkat berhaji, apakah akan diterima hajinya oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla ?

Tidak!

Begitu juga shalat, salah satu syarat sah shalat adalah kita harus berwudhū' (dalam keadaan suci).

Kalau misalnya ada orang shalat tanpa berwudhū', apakah akan diterima shalatnya?

Tidak akan diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jadi tidak perlu heran ketika kita mengatakan bahwasanya Lā ilāha illallāh pun ada syarat-syaratnya.

Lā ilāha illallāh adalah merupakan Rukun Islam yang pertama.

Seandainya Rukun Islam yang kedua shalat, kemudian puasa, zakat, haji dan seterusnya itu ada syarat-syaratnya, kenapa Lā ilāha illallāh tidak ada syarat-syaratnya?

Maka ini yang harus difahami oleh kaum muslimin bahwa kalimat Lā ilāha illallāh bukanlah sekedar kalimat yang diucapkan dengan lisan kita.

Kalimat tahlil bukanlah sekedar kalimat yang hanya dijadikan sebagai "lipstik" di lisan kita tanpa kita memahami isi yang ada atau kandungan yang ada di dalamnya.

Kalimat Lā ilāha illallāh, syarat yang pertama kita mengucapkannya (adalah):

"Kita harus faham makna dari Lā ilāha illallāh sendiri."

Banyak di antara kaum muslimin tidak tahu arti dari Lā ilāha illallāh, (dan) apa konsekwensinya.

Ketika dia mengucapkan kalimat tersebut, apa yang dia harus tunaikan?

Lā ilāha illallāh adalah merupakan bentuk pengikhlasan seluruh ibadah kita hanya untuk Allāh Jallā Wa 'Ala.

Lā ilāha illallāh berarti tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jadi manakala seorang hamba mengucapkan kalimat ini, maka seharusnya tingkah lakunya harus disesuaikan dengan kalimat tersebut .

Dia mengikhlaskan seluruh ibadahnya hanya untuk Allāh Jallā wa 'Ala.

Puasa dia, dia serahkan untuk Allāh..

Shalat dia, dia persembahkan untuk Allāh Jallā Wa 'Ala..

Haji dia, dia khususkan untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla..

Sedekahnyapun juga seperti itu..

Diapun juga berdo'a hanya kepada Allāh Jallā Wa 'Ala..

Berkurban (menyembelih) hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan itu semuanya adalah bentuk dari konsekwensi dan praktek dari Lā ilāha illallāh.

Jadi, kalimat Lā ilāha illallāh bukan sembarang tahlil yang hanya diucapkan dengan lisan.

Tapi kalimat Lā ilāha illallāh adalah sebuah kalimat yang sangat berat kandungannya dan sangat dalam isinya.

Yang ini, kita sebagai seorang Muslim harus terus untuk mempelajari isi dari Lā ilāha illallāh.

Kita tunaikan hak-hak dan kewajibannya dan kita berusaha untuk memenuhi syarat-syaratnya sehingga kita termasuk orang-orang yang In syā Allāh mengakhiri hidup kita dengan kalimat ini.

Sehingga kita diperkenankan oleh Allāh Jallā Wa 'Ala untuk masuk ke surgaNya.

Allāhumma āmīn.

والله تعالى أعلم

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
----------------------------------------------------
Sumber:
http://yufid.tv/ceramah-singkat-misteri-kunci-surga-ustadz-abdullah-zaen-ma

Musibah Adalah Karena Dosa Kita

Dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)

Berbagai musibah terjadi di negeri yang kita cintai ini, dari mulai gempa, angin kencang, longsor, banjir, dan berbagai macam wabah penyakit serta berbagai bentuk krisis, baik krisis ekonomi, keamanan, maupun akhlak. Semua itu, satu persatu, silih berganti datang menjelang, belum selesai tertangani masalah yang satu, muncul masalah yang lain.

Ada apa gerangan? Simaklah sebuah kabar yang tidak mungkin salah dan pasti benarnya, yang berasal dari AllahTa'ala. Allah Ta'ala berfirman :

وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ

"Dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)" (QS. Asy-Syuuraa: 30).

Ibnu Katsiir rahimahullah menjelaskan,

وقوله وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم أي مهما أصابكم أيها الناس من المصائب فإنما هو عن سيئات تقدمت لكم ويعفو عن كثير أي من السيئات ، فلا يجازيكم عليها بل يعفو عنها، ولو يؤاخذ الله الناس بما كسبوا ما ترك على ظهرها من دابة

"Dan firman-Nya (yang artinya) dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalianmaksudnya wahai manusia! musibah apapun yang menimpa kalian, semata-mata karena keburukan (dosa) yang kalian lakukan. "Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)" maksudnya adalah memaafkan dosa-dosa kalian, maka Dia tidak membalasnya dengan siksaan, bahkan memaafkannya. Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun (Faathir: 45) (Tafsir Ibnu Katsiir: 4/404).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa'dirahimahullah menafsirkan ayat di atas,

يخبر تعالى، أنه ما أصاب العباد من مصيبة في أبدانهم وأموالهم وأولادهم وفيما يحبون ويكون عزيزا عليهم، إلا بسبب ما قدمته أيديهم من السيئات، وأن ما يعفو اللّه عنه أكثر، فإن اللّه لا يظلم العباد، ولكن أنفسهم يظلمون وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وليس إهمالا منه تعالى تأخير العقوبات ولا عجزا.

"Allah Ta'ala memberitahukan bahwa tidak ada satupun musibah yang menimpa hamba-hamba-Nya, baik musibah yang menimpa tubuh, harta, anak, dan menimpa sesuatu yang mereka cintai serta (musibah tersebut) berat mereka rasakan, kecuali (semua musibah itu terjadi) karena perbuatan dosa yang telah mereka lakukan dan bahwa dosa-dosa (mereka) yang Allah ampuni lebih banyak.

Karena Allah tidak menganiaya hamba-hamba-Nya, namun merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun, dan menunda siksa itu bukan karena Dia teledor dan lemah" (Tafsir As-Sa'di: 899).

Al-Baghawi rahimahullah menukilkan perkataan seorang tabi'in pakar tafsir Ikrimah rahimahullah,

ما من نكبة أصابت عبدا فما فوقها إلا بذنب لم يكن الله ليغفر له إلا بها، أو درجة لم يكن الله ليبلغها إلا بها .

"Tidak ada satupun musibah yang menimpa seorang hamba, demikian pula musibah yang lebih besar (dan luas) darinya, kecuali karena sebab dosa yang Allah mengampuninya hanya dengan (cara menimpakan) musibah tersebut (kepadanya) atau  Allah hendak mengangkat derajatnya (kepada suatu derajat kemuliaan) hanya dengan (cara menimpakan) musibah tersebut (kepadanya)" (Tafsir Al-Baghawi: 4/85)

(Bersambung)

***

Penulis: Ust. Sa'id Abu Ukasyah

Sabtu, 03 Oktober 2015

Materi Kajian Tafsir Ibnu Katsir, Ahad. 4 Oktober 2015. Ust. Muhir Djafar.

Tafsir Surat Al-Anfal, ayat 11-14
{إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنزلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الأقْدَامَ (11) إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الأعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ (12) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (13) ذَلِكُمْ فَذُوقُوهُ وَأَنَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابَ النَّارِ (14) }

(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kalian mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya. dan Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk menyucikan kalian dengan hujan itu dan  menghilangkan dari kalian gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hati kalian dan memperteguh dengannya telapak kaki (kalian). (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang yang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atas kalian), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang 
yang kafir itu ada (lagi) azab neraka. (Al-Anfal: 11-14)

Allah mengingatkan mereka akan nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka, yaitu rasa kantuk yang membuai mereka; hal ini menjadi penenteram hati mereka dari rasa ketakutan yang diakibatkan dari minimnya bilangan mereka, sedangkan jumlah musuh mereka sangat banyak. Hal yang sama telah dilakukan pula oleh Allah sesudah Perang Uhud sebagai penenteram hati mereka, 

Jumat, 02 Oktober 2015

Mengenal Qantharah

Qantharah adalah suatu tempat yang berada setelah shirath. Di qantharah, terjadi qishash untuk menghilangkan rasa dendam, hasad dan rasa dengki di antara orang-orang yang beriman.

By Muhammad Saifudin Hakim 28 September 2015

Qantharah, suatu istilah yang mungkin masih asing di telinga kita. Padahal, setiap orang beriman tentu mendambakan diri untuk bisa sampai di qantharah.Bagaimana tidak, qantharah adalah suatu tempat antara surga dan neraka yang dilalui manusia setelah selamat melewatishirath, yaitu jembatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam. Oleh karena itu, dalam tulisan ini kami akan sedikit membahas tentang qantharah, sehingga siapa pun yang berharap masuk surga, bisa mengenal suatu tempat yang akan dilewatinya, yaitu qantharah.

Hadits tentang "Qantharah"

Setelah orang-orang beriman selamat melewati shirath, mereka akan berhenti di suatu tempat bernama "qantharah". Dari Abu Sa'id Al-Khudhri radhiyallahu 'anhu,Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda,

يَخْلُصُ المُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

"Setelah orang-orang beriman diselamatkan dari neraka (selamat melewati shirath, pen.), mereka tertahan di qantharah yang ada di antara surga dan neraka. Maka ditegakkanlah qishash di antara mereka akibat kedzaliman yang terjadi di antara mereka selama berada di dunia. Setelah dibersihkan dan dibebaskan, mereka pun diijinkan masuk surga. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh mereka lebih mengetahui tempat mereka di surga daripada tempatnya ketika berada di dunia." [1]

Apakah yang Dimaksud dengan"Qantharah" ??

Para ulama berbeda pendapat tentang"qantharah". Sebagian ulama berpendapat bahwa qantharah adalah bagian paling ujung dari shirath sebelum masuk ke surga. Pendapat ke dua menyatakan bahwa qantharah adalah jembatan tersendiri yang berbeda dengan shirath,dan letaknya di antara surga dan neraka.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahberkata,

الذي يظهر أنها طرف الصراط مما يلي الجنة ويحتمل أن تكون من غيره بين الصراط والجنة

"Yang tampak bahwasannya qantharah adalah ujung dari shirath sebelum surga. Dan ada kemungkinan bahwa qantharah adalah jembatan tersendiri antara shirath dan surga." [2]

Di antara ke dua pendapat tersebut, pendapat yang lebih tepat adalah pendapat ke dua, yaitu bahwa qantharahadalah jembatan tersendiri dan tidak termasuk bagian dari shirath. Hal ini karena orang yang selamat melewatishirath, berarti dia telah selamat melewati dan melintasi shirath secara keseluruhan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil yang ada.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabishallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ، فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُهَا

"Dan dibentangkanlah shirath di antara dua punggung neraka jahannam. Maka aku dan umatku yang pertama kali melintasinya." [3]

Demikian pula kalau melihat hadits tentang qantharah di atas, maka dijelaskan bahwa orang-orang mukmin telah selamat melewati shirath (secara keseluruhan). [4]

Qishash yang Terjadi ketika Manusia berada di "Qantharah"

Di qantharah, terjadi qishash untuk menghilangkan rasa dendam, hasad dan rasa dengki di antara orang-orang yang beriman. Dan ketika telah bersih, mereka akan masuk ke dalam surga. Allah Ta'alaberfirman,

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

"Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan."(QS. Al-Hijr [15]: 47]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahberkata,"Jika mereka telah melewati shirath, mereka berhenti di qantharah yang berada di antara surga dan neraka. Sebagian mereka pun diqishash atas sebagian yang lain. Ketika telah dibersihkan dan dibebaskan, mereka pun diijinkan untuk masuk ke dalam surga." [5]

Qishash di qantharah berbeda denganqishash yang terjadi di padang Mahsyar. Qishash yang terjadi di padang Mahsyar bersifat umum, terjadi antara orang beriman dan orang kafir, atau antara calon penduduk surga dengan calon penduduk neraka, atau antara sesama calon penduduk neraka. Qishash ini adalahdengan menyerahkan pahala kepadapihak yang didzalimi; dan jika pahalanya sudah habis, maka dosa pihak yang didzalimi akan diserahkan kepada pihakyang mendzalimi. Sedangkan qishash diqantharah hanya terjadi di antara orang beriman (setelah mereka selamat melewati shirath) untuk menyucikan hati mereka sebelum masuk ke dalam surga.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaiminrahimahullah menjelaskan,

فإذا وصلوا إلى الجنة لم يجدوها مفتوحة الأبواب، على خلاف أهل النار، فإنهم إذا وصلوا إلى النار فتحت الأبواب ليسوءهم العذاب والعياذ بالله، أما الجنة فلا تكون مفتوحة الأبواب، وإنما يوقفون هناك على قنطرة، وهي الجسر الصغير فيقتص لبعضهم من بعض اقتصاصاً غير الاقتصاص الأول الذي في عرصات القيامة، فيقتص لبعضهم من بعض اقتصاصاً يزيل ما في صدورهم من الغل والحقد؛ لأن الاقتصاص الذي في عرصات القيامة اقتصاص تؤخذ فيه الحقوق، وربما يبقى في النفوس ما يبقى، لكن هذا الأخير اقتصاص للتطهير والتهذيب والتنقية، حتى يدخلوا الجنة وما في صدورهم من غل.

"Jika mereka sampai ke surga, pintu surga masih tertutup. Berbeda dengan penduduk neraka. Ketika mereka sampai di neraka, pintu neraka dibuka sehingga mereka langsung merasakan adzab. Adapun surga, maka pintunya masih tertutup. Mereka menunggu di qantharah, yaitu suatu jembatan yang kecil. Sebagian mereka pun diqishash atas sebagian yang lain, dengan qishash yang berbeda dengan qishash yang pertama terjadi di padang Mahsyar. Mereka diqishash untuk menghilangkan rasa dendam dan rasa dengki. Hal ini karena qishash yang terjadi di padang Mahsyar bertujuan untuk mengembalikan hak (yang didzalimi atau dirampas, pen.), dan terkadang masih tersisa rasa (dendam) di hati. Qishash yang ke dua ini adalah qishash untuk mensucikan dan membersihkan (apa yang ada di dalam hati), sehingga mereka pun masuk surga tanpa ada rasa dengki dalam hati mereka." [6]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaiminrahimahullah melanjutkan penjelasan beliau,

وبهذا نجمع بين النصوص الواردة بأن هنا اقتصاصين، الاقتصاص الأول في العرصات ويقصد منه أخذ الحقوق، وهذا الاقتصاص الأخير والمقصود به التنقية والتطهير من الغل.

فإن قال قائل: أفلا يحصل ذلك بأخذ الحقوق؟ قلنا: لا، فلو أن رجلاً اعتدى عليك في الدنيا ثم أخذت حقك منه، فإنه قد يزول ما في قلبك عليه وقد لا يزول، فإحتمال أنه لا يزول وارد، لكن إذا هذبوا ونقوا بعد عبور الصراط ودخلوا الجنة على إكمال حال، قال تعالى: (وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ) (الحجر: 47)

"Dengan demikian, kita gabungkan dalil-dalil yang ada bahwa terdapat dua qishash. Qishash pertama terjadi di padang Mahsyar dan dimaksudkan untuk mengembalikan hak (pihak yang didzalimi, pen.). Qishash yang ke dua (di qantharah) ini dimaksudkan untuk membersihkan dan mensucikan (hati) dari rasa dendam. Jika ada yang bertanya, bukankah hilangnya dendam sudah terwujud dengan dikembalikannya hak? Kami katakan, tidak. Seandainya ada seseorang di dunia yang merampas hakmu, kemudian Engkau mengambil kembali hakmu dari orang tersebut, maka terkadang hilanglah apa yang ada dalam hatimu (misalnya rasa dendam atau dengki, pen.) dan terkadang tidak hilang. Maka ada kemungkinan bahwa belum hilang (rasa dendam tersebut, pen.). Akan tetapi, jika rasa dendam ini dibersihkan dan dihilangkan, maka mereka pun masuk surga dalam keadaan yang sempurna. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya), 'Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.'" [7]

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Diselesaikan setelah isya', Sint-Jobskade Rotterdam NL, Jumat 11 Dzulhijah 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

___

Catatan kaki:

[1] HR. Bukhari no. 6535.

[2] Fathul Baari, 5/96.

[3] HR. Bukhari no. 806.

[4] Al-Imaan bimaa Ba'dal Maut, hal. 250-251.

[5] Majmu' Fataawa, 3/147.

[6] Syarh Al-'Aqidah As-Safariyaniyyah,1/477 (Maktabah Syamilah).

[7] Syarh Al-'Aqidah As-Safariyaniyyah,1/477 (Maktabah Syamilah

Senin, 28 September 2015

Jampi Jampi.

Pelajaran ke 11
Silsilah Belajar Tauhid.
Tentang "Ar-Rugyah" / Jampi jampi
Ust. 'Abdullāh Roy

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Ruqyah yaitu bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit supaya sembuh.

Bacaan ini diperbolehkan selama tidak ada kesyirikan.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺮْﻗِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﺮَﻯ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻋْﺮِﺿُﻮﺍ ﻋَﻠَﻲَّ ﺭُﻗَﺎﻛُﻢْ ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟﺮُّﻗَﻰ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻴﻪِ ﺷِﺮْﻙٌ

Dari 'Auf bin Mālik radiyallāhu 'anhu berkata; Kami dahulu meruqyah di zaman Jahiliyyah, maka kami bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam :

"Yā Rasūlullāh, apa pendapatmu tentang ruqyah ini?"

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :

"Perlihatkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian, sesungguhnya ruqyah tidak mengapa selama tidak ada kesyirikan".

(HR. Abū Dāwūd, dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh).

Ruqyah yang tidak ada kesyirikan seperti ruqyah dari:

• Ayat-ayat AlQur'an

• Do'a-do'a yang diajarkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan ini lebih utama.

Atau dengan,

• Do'a-do'a yang lain yang diketahui kebenaran maknanya baik dengan bahasa Arab maupun dengan selain bahasa Arab.

Kemudian hendaknya orang yang meruqyah ataupun yang diruqyah meyakini bahwasanya ruqyah hanyalah SEBAB semata, tidak berpengaruh dengan sendirinya dan tidak boleh seseorang bertawakal kepada sebab tersebut.

Seorang Muslim mengambil sebab dan bertawakkal kepada Dzat yang menciptakan sebab tersebut yaitu Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ruqyah yang mengandung kesyirikan adalah jampi-jampi atau bacaan yang mengandung permohonan kepada selain Allāh, entah kepada seorang jin ataupun seorang wali sekalipun, biasanya disebutkan disitu nama-nama mereka.

Tidak jarang jampi-jampi seperti ini dicampur dengan ayat-ayat Al-Qurān atau dengan nama-nama Allāh atau dengan kalimat yang berasal dari bahasa Arab.

Tujuannya adalah satu yaitu untuk mengelabui orang-orang yang jahil dan tidak tahu.

Ruqyah yang mengandung kesyirikan telah dijelaskan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam sabda Beliau :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮُّﻗَﻰ ﻭَﺍﻟﺘَّﻤَﺎﺋِﻢَ ﻭَﺍﻟﺘِّﻮَﻟَﺔَ ﺷِﺮْﻙٌ

''Sesungguhnya jampi-jampi dan jimat-jimat dan juga pelet adalah syirik''.

(HR. Abū Dāwūd, Ibnu Mājah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh)

Itulah halaqah yang ke-11 dan sampai bertemu kembali pada dihalaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين  

Wassalam.

Kamis, 24 September 2015

Akhlak Dalam Islam Dan Macam Macamnya

Akhlak atau tingkah laku tidak terlepas dari kehidupan manusia. Ada akhlak yang disebut dengan akhlakul karimah atau akhlak terpuji dan ada pula akhlak tercela atau akhlak yang buruk.
Setiap manusia berperangai baik atau buruk tergantung dirinya sendiri, karena yang menggerakkan kesemua itu adalah diri sendiri dan benar-benar berasal dari hati nurani tanpa ada pemikiran yang matang.
Semoga kita senantiasa tergolong orang-orang yang berakhlakul karimah dan menjauhi akhlak yang tercela karena selain dosa, akhlak tercela sangat merugikan orang lain.

Pembagian Akhlak Dalam Islam

Ada 2 pembagian akhlak yaitu akhlak mahmudah dan akhlak madzmumah. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

Akhlak Mahmudah /Karimah

Yakni akhlak terpuji atau akhlak yang baik.
Contohnya : pemaaf, sabar, ikhlas, menepati janji, qonaah, jujur, penyayang, pemurah, baik hati, husnudzon dan lain sebagainya.
Dimana akhlak mahmudah ini semuanya membawa kebaikan dan tidak merugikan orang lain. Karena setiap akhlak terpuji ini telah ada tuntunan dan ajarannya baik dalam Al-Qur'an ataupun Hadits nabi. Dari Imam Malik berkata "setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak islam ialah malu".
Malu merupakan dasar akhlak manusia, karena dengan memiliki rasa malu pada Allah SWT maka akan takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan keji.

Akhlak Madzmumah

Yakni akhlak tercela atau perbuatan yang buruk. Contohnya : 

Riya' : Beramal atau melakukan suatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapat pujian orang, dengan kata lain riya' sama artinya dengan pamer.Sum'ah :  Melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.Ujub : Mengagumi diri sendiriTakabur : Membanggakan diri sendiri karena merasa dirinya jauh lebih hebat dibandingkan orang lain.Tamak : Serakah atau rakus terhadap apa yang ingin dimiliki.Malas : Enggan melakukan sesuatu.  Fitnah : Mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya. Memfitnah merupakan salah satu dosa yang sangat dilarang oleh agama karena fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.Bakhil : pelit, medit dan tidak suka membagi atau memberikan sesuatu yang dimiliki pada orang lain

Selasa, 22 September 2015

KEUTAMAAN HAJI DAN UMRAH

KEUTAMAAN HAJI DAN UMRAH

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على آله و صحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Kaum Muslimīn & Muslimāh rahimanī wa rahimakumullāh,

Satu hal yang telah kita ketahui bersama bahwasanya ibadah haji adalah salah satu dari Rukun Islam yang lima.

Karena dia adalah salah satu Rukun Islam yang lima tentu dia adalah amal yang istimewa, amal yang sangat utama.

Dan diantara hal yang menunjukkan istimewanya dan pentingnya ibadah haji (demikian juga ibadah 'umrah) adalah satu hadits:

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan :

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

"Sambunglah haji dengan haji berikutnya dan 'umrah dengan 'umrah berikutnya karena 2 amalan tersebut (haji & 'umrah) bisa menghilangkan kefaqiran (kemiskinan) dan dosa sebagaimana kīr (alat pandai besi) bisa menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Dan tidak ada bagi haji yang mabrūr, ganjaran kecuali surga."

(HR. Imām Ahmad dan At-Tirmidzi dengan derajat hasan)

Kaum Muslimīn yang berbahagia rahimanī wa rahimakumullāh,

Dalam hadits ini, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyampaikan 2 poin;

⑴ Keutamaan haji & 'umrah atau lebih tepatnya keutamaan menyambung haji dengan haji berikutnya & 'umrah dengan 'umrah berikutnya.

⑵ Tentang pahala haji yang mabrur.

■ Penjelasan Point ⑴

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menggemarkan/mendorong umatnya (kita semua) terutama yang diberi kemampuan, kelebihan, kesehatan dan harta untuk bolak-balik pergi haji & bolak-balik pergi 'umrah.

Tahun kemarin telah 'umrah maka tahun ini 'umrah kembali, besok 'umrah kembali.

Dan bagi orang yang punya kemampuan berhaji dan telah berhaji kemudian mendaftarkan lagi untuk haji berikutnya (terutama yang bisa demikian di negara kita adalah Haji Plus), kemudian disambung dengan haji berikutnya & 'umrah dengan umrah berikutnya, maka orang yang demikian, kata Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa 2 ibadah ini (haji dan 'umrah yang bersambung dengan haji dan 'umrah berikutnya) memiliki faidah:

• Menghapus dosa
• Menghapus kemiskinan.

Yaitu menghapus dosa yang terjadi di antara keduanya dan menghapus kemiskinan.

Berkebalikan dengan apa yang ada dalam pikiran banyak orang; syaithan memberikan was-was bahwasanya 'umrah & haji itu perlu biaya yang mahal maka bolak-balik 'umrah & haji itu akan menghabiskan uang & menguras harta.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahkan menyatakan sebaliknya, 'umrah yang disambung dengan umrah berikutnya itu akan menghapus kemiskinan & dosa, dan haji disambung dengan haji berikutnya adalah menghapus dosa & kemiskinan.

'Umrah itu tidak akan menyebabkan orang jatuh bangkrut.

Orang yang semangat untuk pergi haji & mengulangi nya tidak akan menyebabkan orang itu pailit jadi miskin.

Bahkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memberkahi rizki dan hartanya, sehingga harta tersebut menjadi harta yang betul-betul bermanfaat untuk dirinya, keluarganya beserta lingkungan & masyarakat sekitarnya.

Dan kemampuan ibadah haji dan 'umrah untuk menghapus dosa adalah kemampuan yang luar biasa.

Nabi gambarkan seperti "kir" (yaitu alat untuk menempa besi sehingga menjadi golok dan yang lainnya).

Alat ini punya kemampuan yang luar biasa untuk menghilangkan karat (besi yang berkarat) dengan ditempa sedemikian rupa.

Dengan alat ini maka karat nya hilang dan besi akan menjadi senjata yang tajam dan bermanfaat (contoh pisau, golok atau semacamnya)

Di masa silam, cara yang digunakan untuk membersihkan karat adalah dengan menggunakan alat semacam ini, dan dijamin bersih.

Demikian pula dengan kemampuan berhaji & 'umrah yaitu untuk menghilangkan kemiskinan.

Dan punya daya yang sangat luar biasa sebagaimana kemampuan kīr untuk menghilangkan karat besi, karat emas dan karat perak.

Suatu motivasi dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang luar biasa agar orang bersemangat untuk berulang kali pergi 'umrah dan berulang kali pergi haji bagi siapa saja yang memiliki kemampuan fisik, finansial.

Dan itu satu hal yang memungkinkan untuk dilakukan.

Oleh karena itu kita jumpai ulama terdahulu dalam biografi mereka, disebutkan: "Beliau umrah sekian kali dan haji sekian kali."

Suatu hal yang menjadi kebanggaan sehingga ditulis di biografi para ulama berapa kali mereka pergi haji dan 'umrah.

Karena ini adalah ibadah yang membutuhkan kemampuan fisik yang bagus dan kemampuan finansial.

■ Penjelasan Point ⑵

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyampaikan:

"Tidak ada bagi haji mabrūr balasan kecuali masuk surga."

Bedakan antara haji mabrur yang balasannya surga dengan "haji mabur" (dalam bahasa jawa) yaitu haji yang terbang naik pesawat yang tidak dapat balasan apa-apa.

Jika seorang itu hajinya haji mabrur maka balasan adalah surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Namun orang yang hajinya sekedar haji yang mabur, sekedar terbang naik pesawat namun tidak mendapatkan perubahan yang lebih baik dari ibadahnya maka tentu tidak dapat apa-apa.

Maka haji mabrūr, Nabi sampaikan, "Tidak ada balasan kecuali surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Mabrūr diambil dari kata بِرٌّ (birrun) yang artinya kebaikan yang besar.

Sehingga secara bahasa, haji mabrūr artinya yang isinya kebaikan yang besar.
Dan haji akan yang berisi kebaikan yang besar manakala ditunaikan dengan ikhlas karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla & mengikuti apa yang dicontohkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Suatu hal yang merusak kualitas ibadah haji (hendaknya) ditinggalkan & dijauhi.

Sehingga hasilnya, setelah pulang haji jauh lebih baik kualitas agamanya daripada sebelum melakukan haji.

Lebih semangat kepada akhirat, tidak lagi menjadi pemburu dunia, lebih semangat untuk ta'at, lebih semangat untuk meninggalkan maksiat.

Jauh berbeda dengan keadaannya sebelum berangkat menunaikan ibadah haji.

Itulah haji yang mabrūr dan untuknya balasan berupa surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Maka kita do'akan kaum Muslimīn yang pergi haji pada tahun ini agar Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kemudahan bagi mereka dalam melaksanakan ibadah hajinya.

Dan demikian juga, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan haji-haji mereka haji yang Mabrur, haji yang membawa perubahan menuju yang lebih baik untuk terwujudnya negeri kita Indonesia ini ke negeri yang lebih baik.

Demikian apa yang bisa kami sampaikan mudah-mudahan bermanfaat untuk kita sekalian.

Ust. Aris Munandar
________________________