Sabtu, 30 Januari 2016

Kaedah Interaksi Sesama

Oleh Ustadz:
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Ada beberapa kaedah yang bisa kami sarikan dari para ulama tentang kaedah berinteraksi atau bergaul atau menyikapi orang lain.

Kaedah pertama dari Imam Al-Ghazali,

وَحُسْنُ الخُلُقِ بِالناس هُوَ أَلاَّ تَحْمِلُ النَّاسَ عَلَى مُرَادِ نَفْسِكَ بَلْ تَحْمِلُ عَلَى مُرَادِهِمْ مَا لَمْ يُخَالِفِ الشَّرْعَ

"Cara berakhak terhadap sesama adalah memperlakukan orang lain bukan distandarkan pada keinginan kita, namun distandarkan pada keinginan mereka selama tidak menyelisihi syari'at." (Ayyuhal Walad, hlm. 63)

Contoh: Apa standar makanan yang diberikan pada tamu kita? Tergantung pada tamu tersebut. Siapa tahu tamu yang kita layani punya pantangan pada makanan tertentu yang tidak cocok dengan daerah kita, maka pantangannya tadi jangan diberi. Sehingga memberikan sajian makan –misalnya- bukan pakai standar kita, namun standar siapa yang kita layani.

 

Kaedah kedua,

تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ تَبْعاً لاِخْتِلاَفِ العَلاَقَةِ: الوالد مع ولده, الزوج مع زوجته, الرئيس مع مرؤوسه, والعكس

"Cara interaksi berbeda-beda tergantung pada status hubungan. Sehingga berbeda cara interaksi antara orang tua dan anak, antara suami dan istri, antara kepala negara dan rakyatnya, begitu pula sebaliknya."

 

Kaedah ketiga,

أَنَّ التَّعَامُلَ يَتَغَيَّرُ بِاخْتِلاَفِ الأَفْهَامِ وَالعُقُوْلِ. فَالرَّجُلُ الذَّكِيُّ الفَاهِمُ الوَاعِي تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ تَعَامُلِهِ عَنِ الشَّخْصِ الآخَرِ المحْدُوْدِ العَقْلِ المحْدُوْدِ الفَهْمِ المحْدُوْدِ العِلْمِ, فَالحَدِيْثُ مَعَهُ يَكُوْنُ مُنَاسِباً لِطَبِيْعَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى الفَهْمِ.

"Berinteraksi melihat pula dari latar belakang pemahaman dan kecerdasan yang tentu berbeda-beda. Beinteraksi dengan orang yang cerdas, mudah paham dan pinar tentu berbeda dengan orang yang logikanya, daya pahamnya dan ilmunya terbatas. Sehingga ketika berbicara pula hendaklah memperhatikan tabi'at dan kemampuan pemahamannya."

 

Kaedah keempat,

يَخْتَلِفُ أُسْلُوْبُ التَّعَامُلِ أَيْضًا بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّةِ. فَطَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ مِنْ شَخْصٍ شَكَّاكٍ وَحَسَّاسٍ تَخْتَلِفُ عَنْهَا مَعَ شَخْصٍ سَوِيٍّ, فَالطَّرِيْقَةُ تَخْتَلِفُ بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّاتِ وَالصِّفَاتِ الَّتِي تَكُوْنُ بَارِزَةً فِيْهِمْ.

"Cara berinteraksi pula kadang mesti memandang sifat masing-masing orang. Sifat seseorang ada yang penuh dengan keragu-raguan, ada pula yang begitu sensitif. Seperti itu disikapi berbeda dengan orang yang biasa-biasa saja (berada dalam sifat yang lurus). Sehingga cara interaksi dengannya adalah tergantung apa yang dilihat pada sifat yang nampak pada dirinya

Semoga bernanfaat
Wassalam

Rabu, 27 Januari 2016

KIAT-KIAT MENINGKATKAN IMAN (BAGIAN 2 DARI 6)

Oleh Ust: Firanda Andirja. MA.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Apa yang akan disebutkan oleh Syaikh 'Abdurrazzāq Al Badr hafizhahullāhu Ta'āla adalah poin-poin terpenting dari amalan shalih yang dapat menambah keimanan.

■ 1 | BELAJAR ILMU AGAMA

Ini merupakan perkara yang sangat penting yang sangat menambah keimanan.

Yaitu seluruh ilmu yang berkaitan dengan agama, baik ilmu halal wal haram, ushul fiqih, mushthalah hadits, ilmu tentang akhlaq, zuhud dan adab.

Keutamaan menuntut ilmu sangat luar biasa, oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan kecuali tambahan ilmu.

Kata Allāh :

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

"Katakanlah wahai Muhammad,  'Ya Rabbku, tambahkanlah bagiku ilmu'."
(QS Thāha: 114)

Oleh karenanya, dalam hadits yang masyhur Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ 

"Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka untuk meraih ilmu (menuntut ilmu), maka Allāh akan mudahkan jalannya menuju surga."

(HR Muslim)

Perhatikan hadits ini!

Bukankah kita semua sepakat bahwa seluruh amalan shalih mengantarkan kepada surga?

Shalat, puasa, zakat mengantarkan kepada surga, lantas kenapa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengkhususkan penyebutan menuntut ilmu mengantarkan kepada surga? Dimudahkan jalannya menuju surga?

Karena jalan yang paling cepat mengantarkan kepada surga adalah menuntut ilmu.

Dengan ilmu seseorang akan beribadah kepada Allāh dengan ibadah yang benar dan akan mengetahui keburukan-keburukan yang untuk dia jauhi.

Ilmu merupakan pintu yang membuka berbagai macam kebaikan.

Ini dalil yang sangat kuat menunjukkan bahwasanya menuntut ilmu akan menambah keimanan.

Dalam hadits yang lain, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam Shahīh Al Bukhāri:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barangsiapa yang Allāh kehendaki baginya kebaikan, Allāh akan buat dia paham tentang agama."

Perhatikan! 

Dalam hadits ini Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allāh untuk dirinya..."

Seperi kata Al Hāfizh Ibnu Hajar rahimahullāh; "khairan" di sini dalam bentuk tanwin (nakirah) dan kalau ada kalimat nakirah dalam kalimat syarat maka memberikan faidah keumuman dan juga memberikan faidah tafkhim.

Sebagaimana perkataan Ibnu Hajar rahimahullāh, tatkala kalimat nakirah datang dalam bentuk kalimat syarat,

⇒ Nabi tidak mengatakan "man yurīdillāhu bihi al khaira" dengan alif lam, tapi "bihi khairan" dengan tanwin.

Dalam kaidah ushul fiqh, kalau kalimat nakirah disebutkan dalam konteks kalimat syarat maka memberikan kaidah keumuman, sehingga seakan-akan Nabi mengatakan:

"Barangsiapa yang Allāh ingin berikan kepada dia kebaikan dengan berbagai macam kebaikan (umum mencakup kebaikan apa saja), maka Allāh akan buat dia paham tentang agama."

Selain itu, Ibnu Hajar juga mengatakan, "Lītafkhim," khairan di situ menunjukkan agungnya kebaikan tersebut.

Seakan-akan Nabi mengatakan:

"Barangsiapa yang ingin Allāh berikan kepada dia kebaikan yang spesial (bukan sembarang kebaikan) maka Allāh akan buat dia paham tentang agama."

Dan yang paling menunjukkan akan keutamaan ilmu adalah sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits Abu Dardā (hadits riwayat muslim di atas).

Kemudian kata Nabi shallallahu alaihi wasallam:

... وَ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ بِمَا يَصْنَعُ...

"Sesungguhnya malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka...."

⇒ Menunjukkan malaikat tawādhu' di hadapan penuntut ilmu karena penuntut ilmu diagungkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Orang yang mencari ilmu dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla sehingga para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka karena ridha dengan apa yang dilakukan oleh penuntut ilmu.

Kemudian, kata Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْبَحْرِ

"Sesungguhnya seorang yang menuntut ilmu (yang berilmu), akan dimintakan ampunan baginya oleh seluruh penghuni langit dan penghuni bumi, sampai-sampai ikan di lautan juga berdo'a kepada Allāh agar mengampuni orang ini..."

Maka saya katakan bahwasanya menuntut ilmu merupakan sebab utama untuk diampuni dosa-dosa.

Kemudian kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

 وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

"Dan keutamaan seorang yang alim dibandingkan dengan seorang ahli ibadah seperti keutamaan rembulan dibanding seluruh bintang."

Kita bayangkan, di malam hari tatkala bulan purnama, bulan cuma satu namun cahaya bulan itulah yang menerangi bumi yang bagi orang-orang cahaya tersebut bermanfaat.

Adapun bintang-bintang walaupun jumlah banyak, cahayanya tidak akan sampai menerangi bumi.

Artinya, kalau ada satu orang yang benar-benar alim, maka dia lebih afdhal daripada jutaan ahli ibadah yang tidak alim.

Karena dia bisa memberi petunjuk kepada masyarakat, sedangkan ahli ibadah hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Orang alim bisa memberikan penerangan kepada masyarakat tatkala timbul fitnah-fitnah dan syubhat-syubhat.

Dialah yang bisa menjelaskan kepada masyarakat untuk menepis kerancuan dalam pemikiran dan menjelaskan pintu-pintu kebaikan.

Maka satu orang alim lebih baik daripada jutaan ahli ibadah. 

Kemudian kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ 

"Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan harta dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang telah mengambil ilmu maka dia telah mengambil warisan para Nabi."

Oleh karenanya, ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Apa yang sedang kita pelajari setiap hari dalam kajian, baik melalui televisi, radio-radio ataupun langsung bermajlis di hadapan para ustadz atau para ulama maka itu semua adalah warisan nabi yang sedang kita ambil.

Maka hendaknya kita berbahagia.

Lebih banyak warisan nabi yang kita ambil maka makin banyak keimanan kita yang bertambah.

Namun ada perkara yang penting yang harus saya ingatkan, ini diingatkan oleh para ulama dan juga diingatkan oleh Syaikh 'Abdurrazzāq dalam kitabnya tersebut bahwasanya:

◆ Menuntut ilmu bukanlah ibadah lidzatihi, tapi ibadah lighairihi.

Ilmu merupakan wasilah kepada sesuatu dan hanya bernilai ibadah kalau dia bisa mengantarkan kepada sesuatu tersebut, sesuatu tersebut adalah agar dia bisa beribadah, bertakwa kepada Allah.

⇒ Artinya, kalau seorang menuntut ilmu hanya sekedar sebagai wawasan (pengetahuan), bukan untuk diamalkan, maka ilmu tersebut tidak menjadi ibadah.

Ilmu itu menjadi ibadah ketika ilmu tersebut bisa mengantarkan kepada ibadah (bernilai ibadah) disisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla

Dan ini seperti firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam Surat Al Baqarah ayat 21

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Bahwasanya tujuan kita diciptakan adalah untuk beribadah dan ilmu adalah sarana untuk ibadah.

Kalau ternyata seseorang menuntut ilmu tetapi tidak mengantarkan dia kepada ibadah, maka bisa jadi bumerang bagi dia.

Oleh karenanya, Allāh memuji kita di dalam Al Qurān, Allāh mengatakan:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang takut kapada Allāh diantara hamba-hambaNya adalah para ulama (orang-orang berilmu)."

(QS Fāthir: 28)

Kalau ternyata ilmunya tidak mengantarkan dia untuk takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka dia keluar dari ulama yang dimaksudkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāh hanya memuji orang-orang yang berilmu yang takut kepada Allāh.

Adapun orang yang memiliki ilmu tetapi tidak takut kepada Allāh (lisannya tidak dia jaga, omongannya kotor, mudah menjatuhkan orang lain, menuduh orang lain sembarangan) maka ini adalah ilmu yang terkontaminasi.

Allāh juga sebutkan dalam surat Az Zumar ayat 9, ini ayat yang sangat indah:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ 

"Ataukah seseorang yang dia beribadah kepada Allāh qunut (ibadah yang lama) dia malam hari dalam keadaan sujud atau dalam keadaan berdiri, dalam keadaan takut dengan akhirat dan berharap rahmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla..."

Ini menunjukkan bahwa orang yang berilmu yaitu dia shalat malam.

Setelah Allāh menunjukkan ciri orang yang beribadah di malam hari (sujud, berdiri, takut kepada akhirat, berharap kepada Allāh, kemudian kata Allāh di akhir ayat:

"Apakah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?"

Jawabannya tidak sama dalam segala hal.

Perhatikan di sini!

Allāh mengkaitkan antara shalat malam (beribadah di malam hari; sujud, berdiri karena Allāh, takut, berharap kepada Allāh)  dengan orang yang berilmu.

Ini dalil bahwasanya ilmu itu adalah sarana untuk mencapai ibadah.

Ketika ilmu tersebut tidak mengantarkan kepada ibadah maka ilmu tersebut bukan ibadah, ilmu tersebut tidak berpahala. Bahkan ilmu tersebut akan menjadi bumerang.

Perhatikan kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ 

"Al Qurān itu adalah pembelamu di akhirat kelak atau akan menjadi bumerang untuk menyerang engkau pada hari akhirat kelak."

(HR Muslim no. 223)

Demikianlah ilmu itu, akan membela pelakunya di akhirat kelak atau akan menyerang pelakunya di akhirat kelak.

Oleh karenanya, disebutkan dalam hadits yang shahih:

Bahwasanya di akhirat kelak dua kaki seorang hamba tidak akan bergeser sampai ditanya tentang empat perkara, diantaranya ditanya tentang ilmunya; apa yang telah dia amalkan dari ilmunya tersebut.

(HR At Tirmidzi No. 2417)

Ini adalah pertanyaan yang akan ditujukan kepada kita semua.

Oleh karenanya, agar ilmu kita ini menambah keimanan kita dan mendekatkan kita kepada Allāh, memudahkan kita sampai kepada surga, maka tatkala kita berilmu (belajar), maka ingat dan niatkan jangan sekedar untuk wawasan tapi kita niatkan untuk kita amalkan, menghilangkan kejahilan dan untuk mendekatkan diri kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, baik kita bersendirian atau di hadapan orang, kita semakin takut dan taqwa kepada Allāh.

Karenanya, saya tutup masalah ilmu dengan perkataan Ibnul Qayyim yang sangat indah, dia mengatakan:

كل عمل وعلم  لا يزيد الإيمان قوة فمدخول

◆ Seluruh ilmu dan seluruh amal yang tidak menambah keimanan maka terkontaminasi.

Seluruh ilmu yang tidak menambah iman berarti menuntut ilmunya tidak beres, terkontaminasi, pasti ada niat niat yang buruk dalam hatinya.

Entah karena riya', karena ingin dimuliakan oleh masyarakat, karena untuk menyaingi ustadz yang lain misalnya.

Demikian juga misalnya dia beramal ternyata tidak menambah keimanan, pasti termasuki dengan sesuatu yang merusaknya, terkontaminasi dengan niat-niat yang tidak beres.

Oleh karenanya, perkara yang pertama yang menambahkan keimanan bagi seorang adalah menuntut ilmu yang dituntut dengan penuh keikhlasan dan ilmu tersebut mengantarkan dia untuk bertakwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan beramal shalih.
__________________________

Sabtu, 23 Januari 2016

Pengajian Sabtu Sore. 23 Januari 2016. Tafsir Ibnu Katsir. Ust. Drs. Muhir Djafar.

Tafsir Surat Al-Anfal, ayat 26

{وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الأرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (26) }

Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kalian takut orang-orang (Mekah)akan menculik kalian, maka Allah memberi kalian tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kalian kuat dengan pertolongan~Nya dan diberi-Nya kalian rezeki dari yang baik-baik agar kalian bersyukur.
Allah Swt. mengingatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin terhadap nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka dan kebajikan-Nya kepada mereka. Pada awalnya mereka berjumlah minoritas, kemudian Allah menjadikan mereka sebagai golongan mayoritas; dan pada mulanya mereka lemah lagi dalam keadaan dicekam rasa takut, kemudian Allah menguatkan mereka dan menolong mereka. Mereka pun pada mulanya miskin lagi papa, kemudian Allah memberi mereka rezeki dari barang-barang yang baik (halal). Kemudian Allah memerin­tahkan mereka untuk bersyukur kepada-Nya, menaati-Nya, dan mengerjakan semua yang diperintahkan-Nya kepada mereka.
Demikianlah keadaan dan kondisi orang-orang mukmin dalam periode Mekah. Mereka minoritas, dicekam oleh rasa takut, tertindas, dan selalu dibayangi oleh rasa takut diculik oleh orang-orang musyrik dari berbagai kawasan, baik mereka orang musyrik ataupun orang Majusi atau orang Romawi, karena semuanya adalah musuh-musuh mereka. Demikian itu karena jumlah kaum muslim sedikit dan tidak mempunyai kekuatan. Demikianlah keadaan mereka selama itu, hingga Allah mengizinkan mereka untuk hijrah ke Madinah, lalu Allah memberikan tempat tinggal kepada mereka di Madinah, dan menjadikan penduduknya senang kepada mereka, memberikan tempat, dan menolong mereka dalam Perang Badar dan peperangan lainnya. Bahkan penduduk Madinah berbagi harta dengan mereka serta rela mengorbankan jiwa dan raga mereka demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Qatadah ibnu Di'amah As-Sudusi rahimahullahtelah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan ingatlah (hai para Muhajirin)ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Mekah). (Al-Anfal: 26) Kabilah Arab ini pada mulanya adalah manusia yang paling rendah, kehidupannya melarat, perutnya lapar, dan miskin pakaian serta paling jelas kesesatannya. Orang yang hidup di antara mereka kehidupannya celaka dan melarat, dan orang yang mati dari mereka dijerumuskan ke dalam neraka; mereka dimakan dan tidak mendapat makan. Demi Allah, kami belum pernah mendengar bahwa di masa itu ada penduduk bumi yang lebih buruk kedudukannya daripada mereka. Kemudian hal itu berakhir setelah Allah menurunkan agama Islam kepada mereka. Maka berkat agama Islam itulah Allah menguatkan mereka hingga dipengaruhi di seluruh negeri, dan melalui Islamlah Allah meluaskan rezeki mereka serta menjadikan mereka raja-raja di atas semua manusia. Berkat Islam pula Allah memberikan banyak hal kepada mereka, seperti yang kalian lihat sendiri. Karena itu, bersyukurlah kalian kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya karena sesungguhnya Tuhan kalian Yang memberikan nikmat suka kepada perbuatan bersyukur, dan orang-orang yang bersyukur selalu beroleh tambahan nikmat dari Allah.

Kamis, 21 Januari 2016

Muslim Yang Baik..

Oleh:
Ustadz Abu Fairuz, MA
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عبده ورسوله مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ

Seorang mukmin yang baik adalah seorang mukmin yang senantiasa memenuhi hak-hak Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan hak-hak hamba-Nya.

Bukanlah seorang mukmin yang sejati, jikalau dia timpang satu bagian dari dua bagian ini.

Maka yang namanya habluminallāh (hubungan seseorang dengan Allāh ) haruslah baik.

Apakah cukup sampai disitu?

Tidak, habluminannās (hubungan dengan manusia) juga harus baik.

Seorang mukmin yang dia baik hubungannya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, tapi buruk hubungannya kepada manusia dianggap seorang mukmin sejati?

Tidak!

Bahkan pernah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ditanya oleh sahabat-sahabat beliau, tentang ada sosok wanita yang mereka sebutkan tentang shalatnya yang banyak, puasanya yang banyak, mereka juga mengatakan:

"Tapi Yaa Rasūlullāh, lisannya senantiasa menyakiti tetangga-tetangganya."

Apa jawaban Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam:

, "هي في النّار"

"Dia di neraka"

Ini mengabarkan kepada kita, kalaulah kita telah memenuhi hak Allāh Subhānahu wa Ta'āla tapi tidak memenuhi hak hamba, menyakiti hamba, menzhalimi hamba maka sungguh hal ini sia-sia.

Suatu ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersama 'Aisyah Radhiyallāhu Tabāraka wa Ta'āla 'anhā, tatkala mereka dalam kebersamaan datanglah Shafiyah, kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berbincang-bincang dengan Shafiyah.

Tatkala Syafiyah pulang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan keutamaan Shafiyah karena Shafiyah bintu Huyay bin Akhtab suaminya adalah Nabi (Rasūlullāh), keturunan dari nabi, pamannya adalah Yunus bin Matta adalah nabi.

Tatkala Shafiyah Radhiyallāhu 'anhā dipuji Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di depan putri Abū Bakr Ash Shiddīq, maka Aisyah Radhiyallāhu 'anhā terbakar cemburunya.

Ketika itulah Aisyah Radhiyallāhu Tabāraka wa Ta'āla 'anhā, ummul mukminin, Ibunda kita berkata:

يا رسول الله، حسبك من صفية كذا

"Wahai Rasūlullāh, cukuplah bagimu Shafiyah, dia itu seperti ini."

(Sambil berisyarat)

Maksudnya:

"Yaa Rasūlullāh, anda memuji Shafiyah, apapun yang puji tapi dia seperti ini, bukanlah sosok wanita tinggi, dia pendek. "

Maka mendengar ucapan ibunda kita, seketika itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengingatkan:

لقد قلت بكلمة لو مزجت بماء البحر لمزجته

"Sungguh engkau telah mengucapkan satu kalimat (wahai 'Aisyah), jikalau kalimatmu ini dimasukan ke dalam air laut (dibenamkan di air laut) sungguh kalimatmu ini akan merubah rasa lautan."

Allāhu Akbar.

Ini menggambarkan kepada kita bahwasanya hak seorang muslim itu besar di hadapan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Mengghībahnya, menyebutkan kejelekan tentangnya bukanlah perkara kecil.

Banyak yang orang-orang baik shalatnya, menjaga puasanya, mungkin rajin bersedekah tapi tidak mampu menjaga lidahnya, menzhalimi orang-orang Islam lainnya, maka ini bukanlah seorang muslim yang hakiki kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Sungguh, ghibāh yang kecil dalam pandangan manusia tapi kata Rasūlullāh:

"Wahai Aisyah, jikalau ucapanmu ini diletakkan di air lautan, dia akan merubah rasa lautan."

Allāhu Akbar.

Terkadang kita menyepelekan ghībah, terkadang kita menyepelekan dosa ini.

مَرَّ الَّنبِيُّ صلي الله عليه وسلم عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيْرٍ.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melewati dua kuburan, maka beliau mengatakan:

"Sungguh orang-orang yang dalam kubur ini kedua-duanya sedang diadzab bukanlah  karena perkara besar."

(HR Bukhari dan Muslim)

Maksud Rasūlullāh, bukanlah perkara besar dalam pandangan manusia, karena manusia meremehkannya (merendahkannya), menganggap perkara kecil.

Akan tetapi apa kata Nabi kita, ketahuilah sungguh dia adalah besar di hadapan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāhu Akbar.

Apakah perkara ini?

Maka beliau mengatakan:

"Adapun yang pertama, dia tiap kali kencing tidak istinjak, dan adapun yang kedua dia senantiasa jalan dengan menyebarkan ghībah dan mengunjing saudara-saudaranya."

Subhānallāh .......

Kata para ulama, kebanyakan adzab kubur itu efek daripada dua perkara ini.

▪Pertama |Bermudah-mudah dalam beristinja' bahkan tidak istinja'

Kita melihat sebagian kaum muslimin tatkala mereka kencing, mereka tidak istinja'.

Ini penyebab terbanyak adzab kubur.

▪Kedua | Dia jalan kemana-mana sambil berupaya untuk menggunjing manusia.

Subhānallāh.....

Jadi kebanyakan adzab kubur disebabkan karena gunjingan lidah.

Karena itulah, berkata Nabi yang Mulia 'alihi shalātu wa sallam:

اْلمــُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ اْلمــُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ

"Orang Islam itu adalah seorang yang dapat menjaga lisannya sehingga orang lain aman daripada kejahatan lidahnya dan kejahatan tangannya"

(Shahih Muslim: 41)

Berkata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika mendefinisikan ghibāh:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ 

"Engkau menyebutkan tentang saudaramu apa-apa yang tidak dia senangi."

(HR Muslim 2589, Abu Dawud 4874, At Tirmidzi 1999 dan lain-lain)

Maka ghībah terkadang dalam bentuk ucapan, terkadang dalam bentuk bahasa isyarat, terkadang dalam bentuk lirikan mata dan seterusnya.

Engkau menyebut tentang saudaramu dengan apa-apa yang tidak dia senangi inilah ghībah.

Maka kaum muslimin sekalian, jika anda ingin menjadi sosok muslim yang baik hendaklah anda perbaiki hubungan anda dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan perbaiki hubungan dengan sesama.

Jangan pernah menzhalimi sesama, penuhilah hak sesama.

Sebagian orang shalatnya baik tapi hutang tidak bayar.

Sebagian orang, Subhānallāh, baik kepada manusia tapi tidak shalat.

Semuanya salah.

Seorang muslim yang baik adalah menggabungkan antara hak Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan hak manusia.

والله تبارك وتعالى أعلم
وصل الله وسلم على نبينا محمد
والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
 
__________________________

Postibng ulang dari
🌐 Website: 
http://www.bimbinganislam.com

Selasa, 19 Januari 2016

JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN (BAGIAN 5 DARI 5)

Oleh Ustadz Firanda Andirja, MA

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Kemudian diantara sebab-sebab kebahagiaan atau hal-hal yang bisa di tempuh seseorang untuk meraih kebahagiaan, yaitu:

■ SEBAB KEDELAPAN | MENYEBUT-NYEBUT KENIKMATAN YANG ALLĀH BERIKAN KEPADA KITA SAMBIL MELIHAT KEPADA YANG LEBIH DI BAWAH DALAM MASALAH DUNIA

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ

"Adapun nikmat Allāh kepada kalian, maka ingat-ingatlah (sebut-sebutlah)." (QS Adh Dhuha: 11)

Kata  Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ؛ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

"Lihatlah yang di bawah kalian, jangan melihat yang di atas kalian, (dengan cara melihat yang di bawah kalian dalam masalah dunia), maka lebih pantas untuk menjadikan kalian tidak meremehkan nikmat yang Allāh berikan kepada kalian." (HR Muslim)

Ini sering terjadi, tatkala kita terkena kesulitan, maka hendaknya kita ingat bahwa masih banyak orang yang lebih susah daripada kita.

Mungkin kita terkena musibah, tapi kita ingat bahwa masih banyak yang musibahnya lebih parah daripada kita.

Misalkan kita sudah punya motor, tapi orang lain mempunyai mobil, kemudian kita berfikir "Waduh bagaimana ini?."

Kalau seperti itu maka tidak akan pernah berhenti.

Oleh karenanya, sering-sering melatih diri dengan melihat yang di bawah kita.

Maka sesekali kita bawa anak dan istri ke tempat-tempat pengemis atau tempat orang-orang yang hidupnya susah, agar mereka tidak selalu menuntut dan mengerti bahwasanya mereka sebenarnya sedang berada di atas kenikmatan.

Kehidupan dunia hanyalah sementara...

Anak-anak dilatih sejak kecil untuk mensyukuri nikmat yang Allāh berikan kepadanya.

Kemudian,

■ SEBAB KESEMBILAN | JANGAN PERNAH BERHARAP KESEMPURNAAN

Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لاَ يَفْرُكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا خُلُقًا أَخَرَ

"Janganlah seorang lelaki (suami), membenci seorang wanita mu'minah (istrinya) jika dia tidak suka dengan salah satu perangai dari istrinya, karena dia akan ridha dengan perangainya yang lain." (HR Muslim)

Ini adalah hadits yang sangat agung, yang menjelaskan kepada kita bahwasanya di dunia ini tidak ada yang sempurna.

Dalam menjalani kehidupan rumah tanggapun demikian, kalau kita berharap kesempurnaan dari istri kita maka kita tidak akan pernah bahagia.

Istri kita tidak akan sempurna sebagaimana kita juga tidak sempurna.

Kalau yang diingat adalah kesalahan-kesalahan istri kita terus, maka kita tidak akan pernah bahagia.

Ingat, istri kita masih banyak kebaikannya; memasak buat kita, mencuci piring dan pakaian, merapihkan tempat tidur, mengurusi anak-anak, ini adalah kebaikan yang luar biasa.

Sehingga kalau dia mempunyai sedikit kekurangan, mungkin kadang marah-marah, kadang protes, maka kita nasehati.

Dan kekurangan ini akan tertutupi dengan begitu banyak kebaikannya.

Demikian juga dalam menjalani segala kegiatan, misalnya kerja di kantor.

Jangan harapkan kesempurnaan dari teman-teman kita, kalau kita mengharapkan kesempurnaan maka kita akan sering mencela sehingga akhirnya menjalani kehidupan di pekerjaan dengan tidak tenang.

Maka barangsiapa berharap kesempurnaan di dunia, dia tidak akan pernah bahagia.

Dan yang terakhir, di antara sebab kebahagiaan adalah;

■ SEBAB KESEPULUH | IKHLAS KEPADA ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA.

Ini adalah sebab yang juga sangat urgen karena tidaklah kita berbuat sesuatu kecuali karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Oleh karenanya, jangan pernah berbuat baik kepada orang lain dengan mengharapkan balasan dari orang tersebut.

Ingatlah firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla tentang orang-orang bertakwa yang dijanjikan masuk surga, yaitu tatkala mereka memberikan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan, berkata:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاء وَلَا شُكُوراً

"Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kami tidak butuh terimakasih dari kalian, dan kami tidak butuh balasan dari kalian. Yang kami harapkan hanya dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla." (QS Al Insān: 9)

Syaikh 'Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'diy menyebutkan:

"Tatkala engkau berbuat baik (bermuamalah) kepada orang maka anggaplah engkau sedang bermu'amalah dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, lupakan dia sehingga jika sesekali ternyata dia kemudian berbuat buruk kepada engkau maka sudah tidak ada urusan lagi. Karena urusanmu hanya dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan bukan dengan orang ini."

Jika dia memaki, tidak berterima kasih dan melupakan kebaikan kita, maka itu bukanlah urusan kita, urusan kita hanya dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Orang yang senantiasa bermu'amalah seperti ini (yaitu selalu mengingat Allāh Subhānahu wa Ta'āla) maka inilah orang yang berbahagia.

Adapun orang yang mengharapkan kebaikan dan pujian orang (riya') maka ini adalah orang yang paling menderita karena senantiasa mengharapkan balasan dari makhluk/manusia yang dia berbuat baik kepada orang tersebut.

Demikianlah sedikit yang bisa saya sampaikan tentang langkah-langkah yang mungkin bisa kita lakukan agar kita bisa sabar dalam menghadapi pernak-pernik kehidupan, bisa tetap berlapang dada dan bisa tetap berbahagia meskipun kondisi apapun yang menimpa kita.

Sekali lagi, apa yang saya sampaikan semuanya hanyalah teori, yang terpenting adalah prakteknya.

Oleh karenanya, sebagian murid dari Syaikh Bin Bāz rahimahullāh Ta'āla mengatakan bahwa diantara do'a yang sering diucapkan oleh Syaikh Bin Bāz adalah:

أَللَّهُمَّ أَصْلِحْ قَلْبِيْ

"Ya Allah, perbaikilah hatiku."

Kita ingin hati kita baik, senantiasa bahagia dan selamat dari berbagai macam penyakit, sehingga kita bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam bentuk hati yang bersih.

Sebagaimana do'a Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām yang diabadikan dalam Al Qurān:

وَلا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ * يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ "

"Ya Allah, jangan hinakan aku di hari kebangkitan, hari dimana tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang bertemu Allāh dangan hati yang bersih."

⇒ Hati yang bersih dari berbagai penyakit hati dan hati yang bahagia.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kepada kita kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
______________________________

Posting ulang dari Website: 
http://www.bimbinganislam.com

Kenapa Kita Perlu Belajar Bahasa Arab

Kenapa mesti belajar bahasa Arab? Apa manfaatnya?
Walau kita bukan orang Arab, namun manfaatnya cukup besar jika kita mau mempelajari bahasa Arab.
Ini beberapa alasan kenapa kita mesti luangkan waktu untuk belajar bahasa Arab.

Pertama:

Keutamaan bahasa Arab amatlah jelas karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an Al-Karim. Cukup alasan inilah yang jadi alasan besar kenapa kita harus mempelajari bahasa Arab. Keistimewaan bahasa Arab disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari sepuluh tempat, di antaranya pada ayat,
وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ . قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 27-28)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
اللِّسَانُ العَرَبِي شِعَارُ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ
“Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar kaum muslimin.” Disebutkan dalam Iqtidha’ Shirath Al-Mustaqim.

Senin, 18 Januari 2016

JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN (BAGIAN 4 DARI 5)

Oleh:
Ustadz Firanda Andirja, MA
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ikhwāni fillāh a'āzaniyallāhu wa iyyakum,

Kemudian diantara sebab-sebab kebahagiaan atau hal-hal yang bisa ditempuh oleh seseorang untuk meraih kebahagiaan:

■ SEBAB KELIMA | BANYAK MENGINGAT ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِ‌ۗ أَلَا بِذِڪۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَٮِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ

"Orang-orang yang beriman dan tenang hati mereka karena berdzikir kepada Allāh. Ketahuilah, dengan mengingat Allāh akan tenang hati-hati ini."

(QS Ar Ra'd: 28)

Ini adalah perkara ibadah yang ringan akan tetapi banyak orang tidak mengerjakannya.

Lagi mengendarai mobil maka berdzikirlah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla sambil di renungkan maknanya.

سُبْحَانَ اللّهُ

"Maha suci Allāh."

اَلْحَمْدُلِلّهِ

"Segala puji hanya untuk Allāh (atas segala nikmat yang Allāh berikan kepadaku)."

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ

"Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allāh."

لاَحوْلَ وَلاَ قُوَّة اِلاَّبِاللّهِ

"Tidak ada daya (untuk menghindarkan diri dari maksiat) dan tidak ada kekuatan (untuk melaksanakan ketaatan) selain dengan pertolongan Allāh."

Kenapa kita malas berdzikir? Padahal pahalanya banyak sekali.

Diantara bentuk dzikir (mengingat Allāh) adalah membaca Al Qurān.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٌ۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ وَشِفَآءٌ۬ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ

"Wahai manusia, telah datang kepada kalian nasihat dari Rabb kalian dan obat bagi penyakit hati kalian."

(QS Yūnus: 57)

Membaca Al Qurān juga bisa menenangkan hati, menghilangkan stres dan mendatangkan kebahagiaan.

Buatlah jadwal membaca Al Qurān untuk membantu, misalnya 1 hari 1 halaman, atau kalau mau lebih rajin 1 hari 2 halaman atau seperempat juz.

Oleh karenanya, di antara doa penghilang kesedihan adalah:

أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.

"Ya Allāh, aku minta kepada Engkau agar menjadikan Al Qurān sebagai penyejuk hatiku dan cahaya bagi dadaku dan menghilangkan kesedihanku dan menghilangkan kegelisahanku."

(HR Ahmad 1/391, dishahihkan oleh Al Albāni)

Ikhwani fillah 'azaniyallāhu wa iyyakum,

Diantara hal-hal yang bisa membawakan kebahagiaan adalah :

■ SEBAB KEENAM | BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG SHALIH

Yaitu:

• Orang-orang yang kalau kita lihat, maka mengingatkan kita kepada akhirat.

• Orang-orang yang kalau kita salah, maka menegur kita.

• Orang-orang yang tatkala melihat kita, maka dia berusaha agar kita mendapatkan kebaikan.

• Orang-orang memberikan wejangan kepada kita.

• Orang-orang yang menasehati kita.

• Orang-orang yang memotivasi kita untuk beramal shalih.

Ini adalah orang-orang yang mengingatkan kita kepada akhirat  dan mendatangkan kebahagiaan.

Carilah teman-teman yang shalih dan jangan sembarang bergaul karena kalau kita salah bergaul maka yang masuk dalam benak kita adalah sesuai dengan apa yang sering digeluti oleh teman kita itu.

Ada orang yang baru kita lihat penampilannya sudah mengingatkan tentang akhirat, mā syā Allāh orang ini zuhud, rajin ibadah, shalatnya indah, tawādhū'.

Kalau sudah berteman dengan dia, lazimilah. Jadilah teman yang baik baginya, sehingga dia betah berteman dengan kita.

Ada orang yang kalau kita lihat maka kita ingat maksiat, yaitu kerjaannya ghibah, menceritakan Si Fulan, mencari kejelekan-kejelekan saudaranya.

Orang-orang seperti ini akan memberikan kemudharatan dan akan merusak hati kita.

Ikhwani fillah 'azaniyallāhu wa iyyakum,

Diantara hal-hal yang bisa membantu membawakan kebahagiaan adalah;

■ SEBAB KETUJUH | BERUSAHA MEMBERSIHKAN HATI

Diantaranya dengan memaafkan saudara yang bersalah, menghilangkan hasad, iri dan dengki dari hati kita.

Ini adalah perkara yang sangat penting dan luar biasa.

Kita berusaha agar hati kita lapang dan tidak ada kotorannya, tidak dengki dan hasad sama orang lain.

Orang yang diberikan hati yang seperti ini maka berarti telah diberikan anugerah yang luar biasa.

Kalau dia mau tidur maka tidak ada rasa jengkel sama orang lain, tidurnya pulas, tenang, orang ini bahagia.

Jantung kita ini kecil, kalau kita isi dengan berbagai macam penyakit; ada hasadnya, ada dengkinya, ada jengkelnya ada marahnya, maka repot, sehingga harus kita bersihkan.

Sampai-sampai dalam hadits (kata para ulama haditsnya sanadnya lemah, tapi maknanya benar), Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan yang maknanya:

"Jangan engkau ceritakan keburukan orang-orang kepadaku. Saya ingin keluar dari rumahku dalam keadaan hatiku (dadaku) lapang, tidak ada rasa dengki, tidak ada prasangka buruk kepada orang lain."

Jika ada orang yang punya permusuhan dengan saudaranya, maka kasihan orang seperti ini.

Meskipun dia bertauhid, meskipun dia tidak berbuat syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Orang seperti ini tidak mendapatkan dua hadiah yang Allāh bagikan setiap hari senin dan hari kamis, hadiah yang sangat mulia, yaitu ampunan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Betapa banyak maksiat yang kita lakukan maka kita butuh ampunan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

⇒ Ampunan Allāh diberikan kepada setiap hamba yang tidak berbuat syirik, tetapi dengan syarat tidak bermusuhan sama saudaranya.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

"Dibukakan pintu-pintu surga setiap hari senin dan hari kamis maka diberi ampunan kepada setiap hamba yang tidak berbuat syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla kecuali orang yang punya permusuhan dengan saudaranya, maka dikatakan:

'Tundalah ampunan bagi kedua orang ini, (sampai tiga kali diulang), sampai keduanya berdamai'."

(HR Muslim)

Dibukakan pintu surga menunjukkan turunnya rahmat, turunnya ampunan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

⇒ Diantara keutamaan orang yang bertauhid (tidak berbuat syirik) yaitu setiap hari senin dan hari kamis Allāh beri ampunan meskipun dia terjerumus dalam dosa-dosa.
______________________________

Posting ulang dari Website: 
http://www.bimbinganislam.com